Fubuki Aida Blog

  • Home
  • Cerita
  • _Kuliner
  • _Traveling
  • _Hotel
  • _Info
  • About
  • Disclaimer

Trans Jateng Wonogiri-Solo

FubukiAida.com - Rute Trans Jateng koridor Wonogiri–Solo mengalami perubahan sejak terjadinya kebakaran di Pasar Wonogiri beberapa waktu lalu.

Sebagaimana diketahui, pada Oktober lalu Pasar Kota Wonogiri mengalami kebakaran besar yang menghanguskan hampir seluruh kios. Akibatnya, area halte terminal pasar (terminal tipe C) yang biasanya menjadi lokasi halte Trans Jateng, harus dialihkan karena kini digunakan sebagai Pasar Darurat.

Perubahan Rute dan Lokasi Halte

Secara umum, rute yang dilalui Trans Jateng Wonogiri–Solo masih relatif sama seperti sebelumnya. Namun ada satu perubahan penting, yaitu pemindahan halte Terminal Pasar.

Halte Terminal Pasar kini dipindah ke depan Kodim Wonogiri, tepat di depan Mall Pelayanan Publik (MPP) Wonogiri. Dengan demikian:

  • Halte MPP Wonogiri menjadi tujuan akhir Trans Jateng dari arah Solo.

  • Halte ini juga menjadi titik awal keberangkatan bus Trans Jateng dari Wonogiri menuju Solo.

Baca Juga: Mall Pelayanan Publik Wonogiri: Lokasi, Layanan yang Diberikan, dan Ada Instansi Apa Saja?

Tarif dan Jadwal Trans Jateng

Sementara itu, tarif Trans Jateng untuk rute Wonogiri–Solo maupun Solo–Wonogiri pada 2025 ini, yaitu:

  • Tarif umum: Rp 5.000

  • Tarif pelajar: Rp 1.000

  • Tarif lansia: Rp 1.000 (harus bawaa KTP)

Terkait jadwal, untuk trans Jateng ,mulai awal 2025 lalu jadwal diperpanjang. Jadwal terbaru Trans Jateg Solo-Wonogiri dan Wonogiri-Solo yakni:
  • Pemberangkatan awal: 05.00 WIB (dari Terminal Tirtonadi dan Terminal Tipe C Wonogiri(sekarang depan kodim))
  • Pemberangkatan akhir: 18.00 WIB (dari Terminal Tirtonadi dan Terminal Tipe C Wonogiri (sekarang depan kodim))
Menariknya, bus Trans Jateng ini jumlahnya lumayan banyak, jadi selama dalam rentang masih jam operasional, nggak perlu khawatir kehabisan bus. Pasalnya setiap 10-20 menit, akan selalu ada bus Trans Jateng.

Tulisan saya soal Trans Jateng Wonogiri-Solo lainnya bisa disimak di link di bawah:

Baca Juga: Panduan Cara Naik Trans Jateng Wonogiri: Rute ,Tarif, dan Jadwal Keberangkatan

  • 0 Comments
becak malioboro


FubukiAida.com - Beberapa bulan lalu, seorang teman baik menemani saya healing ke tempat yang nggak begitu jauh dari Solo, Malioboro.

Tempat yang mungkin dipandang banyak orang sepele sambil bilang, "Ngapain orang Solo Raya ke Malioboro"?

Tapi percayalah, bahwa kemanapun kita pergi yang penting itu bukan seberapa jauh jaraknya, tapi bagaimana kita bisa menikmati perjalanan itu.

Yang terpenting adalah dengan siapa kita pergi, dan apa saja yang bisa kita dapat dari perjalanan itu...

Well, singkat cerita kami ke Malioboro, dan kami sempat naik becak di Malioboro.

Jadi tulisan kali ini saya ingin memberikan kalian panduan naik becak di Malioboro biar efektif dan efisien.

Tarif naik becak di Malioboro

Saya tahu, mungkin  'tarif naik becak di Malioboro' adalah keyword yang sepertinya langka untuk dicari orang. 

Tapi bagaimanapun jika kamu membaca tulisan saya, mungkin kamu memang membutuhkan tulisan ini dan saya berharap bisa membantu.

Jadi, tarif naik becak di Malioboro itu relatif. Maksud saya relatif itu ya tergantung kesepakatan tawar-menawar yang kita lakukan.

Oleh sebab itu, saran saya sebelum naik becak di Malioboro tanyakan berapa tarifnya. Jika merasa kemahalan cobalah untuk menawar.

Kalau saya beberapa bulan lalu, naik becak dari Malioboro menuju Taman Sari tarifnya kisaran Rp 20.000-25.000 untuk dua orang. 

Tapi ini saya naik dari Titik nol kilometer lho ya, bukan dari Malioboro yang bagian tengah.

Nah, kalau kalian naik dari Malioboro bagian tengah seperti dekat Pasar Bringharjo atau Mall Malioboro dengan tujuan Taman Sari, saya rasa tarifnya harus ditambah. Jauh banget soalnya.

Baca juga: Sensasi Seruput Segelas Kopi Jos Tugu Jogja

Seringkali, tukang becak juga akan menawarkan jasa mengantar keliling Malioboro dan sekitarnya sembari mampir ke tempat oleh-oleh bakpia atau pabrik kaos Dagadu Djogja. 

Nah, jika kalian ingin naik becak keliling Malioboro sembari ke tempat oleh-oleh, tarifnya juga beda lagi. Kalian bisa tanya dulu berapa. Setau saya berkisar Rp 60.000-Rp 70.000. Tapi ya itu sesuai kesepakatan, bisa kurang atau lebih.

Kalau ngerasa kemahalan, ditawar. Kalau masih nggak cocok, ya udah nggak usah naik. Tapi kalau ngerasa punya rejeki lebih, saya rasa nggak ada salahnya. 

Soalnya kalau jalan emang capek. Selain itu, naik becak di Jogja itu punya vibes tersendiri kalau kata saya. Jadi ya, harganya cukup sepadan.

Cara naik becak di Malioboro

Ada banyak tukang becak di Malioboro yang bisa ditemukan dari ujung ke ujung.

Kalau mau naik, tinggal panggil aja dan tanya tarif, nego, kalau cocok langsung naik. Mudah banget kan?

Oh iya, di Malioboro ada becak tenaga manusia, ada juga yang tenaga motor. Yang manapun bisa dicoba.

Sepengalaman saya, tukang becak di sana baik-baik selama sikap kita baik.

Oh iya kemarin saya dari Taman sari pulangnya ke Malioboro juga naik becak. Di Taman Sari, juga ada banyak tukang becaknya kok.

Dari Malioboro ke mana saja?

jalanan malioboro


malioboro kini

Nah kalau kalian datang ke Malioboro dan bingung setelahnya mau kemana, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi.

Beberapa tempat yang bisa dikunjungi kalau ke Malioboro yang jaraknya bisa dijangkau dengan becak di antaranya:
  • Museum Sono Budhoyo
  • Keraton Jogja
  • Alun-Alun
  • Taman Sari
  • Taman Pintar
Nah, saya sarankan kalau kalian ke Malioboro, kalian sebaiknya naik becak, atau mungkin andong. Ada banyak orang-orang sekitar yang menggantungkan hidupnya dari ini.

Yeah, anggap saja bagi-bagi rejeki. Tanyakan tarifnya, kalau cocok naik. 

Baca juga: Abrakadabra Hostel, Penginapan Murah Solusi 'Nggembel' Di Yogyakarta

  • 5 Comments
goa resi

FubukiAida.com - Beberapa waktu yang lalu, saya menjajal datang ke Goa Resi, Objek Wisata Wonogiri yang ada di Desa Conto. Akhirnya setelah sekian lama, saya berkesempatan lagi datang ke tempat itu. 

Terakhir ke sana, Goa Resi masih alami. Namun kini, objek wisata tersebut telah selesai dilakukan revitalisasi sejak beberapa tahun lalu.

Goa Resi yang sekarang sangat jauh berbeda. Emm, maksud saya goanya masih sama sih, hanya kondisi sekitarnya yang jauh berbeda. Lebih bagus tentunya.

Kini objek wisata Goa Resi jauh lebih menarik, karena wisata tak hanya berfokus pada Goa saja. Pengunjung sekarang memiliki pilihan untuk menikmati objek wisata lain yang ada di sana.

Selain itu, objek wisata Goa Resi, kini menjadi lokasi wisata yang ramah untuk wisata keluarga. Jauh dari kesannya dulu yang menurut saya dulu hanya cocok untuk orang-orang yang suka bertualang dan menyukai sejarah.

Baca Juga: Kolam Renang Gunung Pegat Sukoharjo, Informasi Tiket Renang

Oh iya, jika masih bingung tentang Goa Resi, wisata Goa Resi Wonogiri ini berbeda ya dengan Soko Langit.

Biarpun sama-sama berada di Desa Conto, dan sama-sama memiliki wahana kolam renang, namun keduanya adalah objek wisata Wonogiri yang berbeda.

Tapi kalau punya kesempatan datang ke Desa Conto, kalau bisa sih ya kunjungi saja keduanya. Hehe...

Ada apa di Goa Resi?

Goa Resi

Sesuai namanya, Goa Resi adalah objek wisata berupa goa. Goa ini goa asli ya bukan buatan.

Berbeda dengan kondisi yang dulu, Goa Resi sekarang sudah diberi penerangan, sehingga pengunjung bisa masuk ke dalam goa untuk melihat kondisi di dalamnya.

Stalagtit dan stalagmit pun terlihat jelas, ya walaupun sejelas-jelasnya penerangan di Goa tetap saja remang-remang.

Goa Resi tidak terlalu dalam, perkiraan saya sekitar 50 meter, jadi tenang saja untuk yang takut wisata goa, Insya Allah aman kok.

Karena kemarin niat datang kemari sekedar melepas stres, jadi saya tidak sempat mencari tahu lebih lanjut seputar goa ini. Maafkan.

Namun dari cerita sekilas informasi yang saya dengar, konon Goa Resi dulunya adalah tempat singgah seorang pengembara sakti. 

Tapi daripada salah, soal sejarah, kapan-kapan lagi deh saya update kalau sudah dapat info lengkapnya. Hehe.

Yang pasti, untuk menuju ke posisi Goa, pengunjung harus mendaki sejumlah anak tangga. Namun anak tangga ini sudah diberi cor-coran, tak seperti zaman dahulu yang seingat saya masih berupa bebatuan.

Di dekat Goa ini juga sudah diberi taman-taman dengan kolam ikan yang cantik. Meskipun buatan, namun taman terkesan alami dan rapi.

Selanjutnya, bukit di dekat Goa Resi juga sudah dikelola sedemikian rupa, siapapun yang dulu pernah kemari pasti sekarang akan pangling.

Di tepian bukit diberi tanaman merambat, kemudian jalanannya juga sudah ditata untuk memudahkan pejalan kaki.

Karena jalannya cukup menanjak, maka untuk berjalan ke sisi atas goa, pengunjung bisa menggunakan kendaraan shuttle bus yang telah disediakan.

Sampai di atas, akan ada mushola, gardu pandang, taman, kafe dan juga kolam renang.

Wisata Goa Resi ini cukup syahdu, selain hawa di sana lumayan dingin lantaran lokasinya yang ada di selatan Gunung Lawu, pemandangan yang disajikan juga cukup menawan.

Memang pemandangannya berbeda sudut dengan Soko Langit, namun keduanya sama-sama memiliki pesonanya masing-masing.

Dari sini pemandangan bentangan hijau perbukitan cukup mempesona. Ada sejumlah gardu pandang yang disediakan, cocok untuk foto-foto dengan latar langit dan hijaunya pepohonan yang masih rimbun.

Di dekat gardu pandang juga ada sebuah taman yang menurut saya berkonsep ala-ala taman Eropa dengan beberapa tanaman baru yang sengaja ditumbuhkan. Di lokasi ini juga cocok untuk dijadikan background berfoto.

pemandangan goa resi

taman di Goa resi

Selanjutnya ada tempat makan di sisi atas dekat kolam renang dan satu kafe di sisi bawahnya.

Tempat makan ini menjual beragaman makanan, gorengan, es buah dan sebagainya.

Pengunjung bisa bersantai, ngobrol dengan orang-orang tercinta sembari menikmati pemandangan dari tempat makan ini.

Kolam renang di tempat ini didesain tiga tingkat, sepengamatan saya bagian atas untuk anak dan paling bawah untuk orang dewasa.

Secara keseluruhan wisata Goa Resi ini sudah cukup bagus, namun saya pribadi berharap di sisi bawah sekitar parkiran ada wahana lain untuk menghidupkan suasana di sisi bawah.

resto goa resi

view goa resi

kolam renang goa resi

Harga Tiket ke Goa Resi

Beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Goa Resi, harga tiket masuk yang diterapkan adalah Rp 10.000 untuk setiap orang.

Sementara itu, untuk tarif sepeda motor dikenakan tarif  Rp 3.000 per motor.

Untuk tiket naik ke objek wisata di sisi atas Goa dengan shuttle bus yakni Rp 3.000 sekali naik, dan Rp 3.000 saat turun.

Tapi naik shutle ini tidak wajib, jadi kalau kepengen jalan ya pengunjung dipersilakan untuk jalan kaki.

Lokasi Goa Resi

Goa Resi berlokasi di Jalan Goa Resi, Dusun Nglarangan, Conto, Kec. Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.

Petunjuknya, setelah memasuki gerbang desa wisata Conto, belok ke kanan. Jadi berbeda dengan arah ke Soko Langit.

Kalau Soko Langit dari gerbang tinggal lurus, kalau Goa Resi belok ke kanan lalu lurus saja.

Oh iya, biar tak tersesat jangan ragu tanya lokasi ke penduduk setempat ya, karena kalau di daerah pedesaan Google Map kadang tak akurat.

Namun sebagai gambaran lokasi bisa disimak melalui petunjuk Google Maps berikut.

Baca Juga: Kolam Renang Soko Langit, Kolam Rooftop Rasa Ubud Di Wonogiri
  • 0 Comments
Stasiun Wonogiri

FubukiAida.com - Batara Kresna adalah satu-satunya kereta yang melayani transportasi berbasis rel dari Solo ke Wonogiri.

Kereta ini melayani perjalanan PP, masing-masing dua kali dalam sehari.

Tak hanya bisa ditumpangi dari Solo, warga dari Sukoharjo bisa naik kereta ini dari stasiun Sukoharjo.

Kereta Batara Kresna memiliki biaya yang sangat terjangkau, yakni Rp 4.000 saja untuk sekali perjalanan.

Lantas, jika kamu naik kereta Batara Kresna dari Solo ke Wonogiri, enaknya mampir wisata kemana?

Ide aktivitas saat naik kereta Batara Kresna ke Wonogiri

Sebelum membahas mengenai tempat wisata dekat Stasiun Wonogiri, berikut ini beberapa ide aktivitas yang bisa dilakukan kalau naik kereta Batara Kresna ke Wonogiri:

1. Pasar Wonogiri

Mampir ke Pasar Wonogiri dan belanja di sana, sepertinya bisa menjadi ide yang menarik buat kalian yang keretaan pakai Batara Kresna.

Pasar Wonogiri lokasinya cuma sekitar 200 meter dari Stasiun Wonogiri. Cukup jalan aja ke timur udah sampai deh di pasar.

Saat di pasar Wonogiri tentu saja bisa beli banyak hal, seperti: baju, aksesoris, sayur-mayur dan sebagainya.

Karena lokasinya dekat banget dengan stasiun, jadi kalau malas jalan jauh-jauh ya salah satu pilihannya datang ke pasar.

2. Mampir makan 

Aktivitas makan juga bisa menjadi ide buat kamu yang keretaan ke Wonogiri. Depan Stasiun itu ada Warung Mbah Beth namanya. Ini warung legend sih karena udah ada sejak dulu meskipun dulunya nggak jualan di situ.

Menu paling enak kalau menurut saya adalah lontong opornya. Rasanya nyummy banget. Khas gitu, dengan tambahan semacam kuah kedelai atau( apa nggak paham namanya, hehe).

Di dalam pasar Wonogiri juga ada sejumlah tempat makan yang rekomen juga, seperti Warung Pak To, Yu Lasi, Bakso Rahayu, masih banyak lagi. Eksplor saja kalau kemari.

Terus di seberang Pasar Wonogiri, juga ada warung bakso terkenal yakni warung Bakso Gajah Mungkur, dan Warung Bakso Pak Bagong.

3. Mampir ke Toko Baru

Baru Toserba lokasinya tak jauh dari Pasar Wonogiri. Jadi kalau naik kereta ke Wonogiri, kamu juga bisa mampir ke Baru Toserba.

Jadi Baru Toserba ini udah seperti mallnya Wonogiri. Selain menjual beragam perabot dan kebutuhan rumah tangga, baju, maupun alat tulis, Toserba ini di lantai atas juga ada food courtnya, dan ada pula arena bermain anak.

Baca Juga: Mengenal Baru Toserba, Apa Saja yang Dijual? Bagaimana Sejarahnya?

4. Mampir ke Car Free Day (CFD) Wonogiri

Nah, jika ke Wonogiri saat Hari Minggu, bisa tuh mampir jalan-jalan ke CFD Wonogiri.

Lokasi CFD itu tak jauh dari Ponten, dan membentang melewati alun-alun Wonogiri hingga sebelum jembatan Pokoh.

Jalan aja dari stasiun Wonogiri buat ke CFD, nggak jauh kok. Sekalian jalan-jalan pagi di Wonogiri kan seger,,,

Tapi ingat yak, CFD nya hanya sampai jam 9.00 pagi. 

Tempat wisata Wonogiri dekat stasiun

Nah, jika sedang naik kereta Batara Kresna ke Wonogiri dan mencari tempat wisata Wonogiri dekat stasiun, berikut ini beberapa rekomendasi tempat wisata Wonogiri dekat stasiun:

1. Gunung Gandul

Gunung Gandul adalah tempat wisata paling dekat dari Stasiun Wonogiri. Karena ya bisa dibilang stasiun Wonogiri ada di kaki Gunung Gandul.

Nah rute terdekat untuk menuju ke Gunung Gandul bisa jalan ke utara dari stasiun, terus jika ketemu perempatan ada patung sapunya, belok ke kiri.

Hati-hati nyebrang rel, terus nanti ada belokan belok ke kanan lurus, terus nanti tanya warga sekitar aja karena saya juga bingung ngejelasinnya. Haha.

Tapi ingat, kalau kemari walaupun gunungnya tidak tinggi, tapi hati-hati ya. Tempatnya sepi, licin dan juga banyak keranya.

Tapi buat yang emang seneng mendaki pasti bakalan cocok kalau kemari.

Baca Juga: Naik-naik ke Gunung Gandul

2. Watu Cenik

Nah, kalau mau ke Watu Cenik bisa juga tuh, tapi harus naik angkot atau Gojek buat nganterin ke sana. Eits, itupun nggak sampai atas. 

Nggak semua Gojek bisa nganter ke Watu Cenik, soalnya tempatnya tinggi banget dari jalan raya.

Jadi ya kalau naik angkot atau ojol nanti cuma sampai gapura bawah saja terus jalan ke atas. 

Jalan ke atasnya ini tinggi banget. Bakalan cuapek. Tapi ya nggak papa sih sekalian olah raga, cuma persiapan aja bawa air minum.

Watu Cenik ini menawarkan pemandangan Wonogiri dari ketinggian. 

Kita bisa melihat luasnya Waduk Gajah Mungkur dari atas, dan hijaunya pepohonan di area bawah.

Nah kalau mau lebih seru lagi tapi perjuangannya lebih hebat lagi, ke Bukit Ganthole 1 atau ke Soko Gunung yang lokasinya jauh di atas Watu Cenik.

Baca Juga: Watu Cenik Wonogiri, Spot Selfie Balon Udara Yang Instagramable


3. Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur

Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur adalah salah satu wisata ikonik di Wonogiri. 

Cocok banget buat wisata keluarga apalagi kalau bawa anak-anak kecil.

Ada banyak kelebihan dari tempat ini: kuliner banyak piilihan, bisa lihat kebun binatang, berenang, naik kereta, naik perahu, banyak banget pilihannya.

Nah jadi saran saya kalau memang bareng keluarga besar,  mending ke Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur saja.

Untuk menuju ke Objek Wisata Waduk Gajah Mungkur, bisa dengan naik ojol, atau angkot.

Baca Juga: Cara Menuju ke Waduk Gajah Mungkur dari Solo dan Wonogiri Kota

4. Plaza Wonogiri

Nah, selanjutnya tempat wisata dekat Stasiun Wonogiri adalah Plaza.

Jangan bayangkan, maksud plaza di sini adalah mall ya, karena bukan itu maksud saya.

Yang disebut Plaza ini adalah lokasi di mana patung Bedol Desa berdiri. Patung Bedol Desa Wonogiri, menggambarkan bagaimana orang-orang zaman dahulu melakukan transmigrasi bedhol desa akibat adanya rencana pembangunan Waduk Gadjah Mungkur.

Jadi Plaza ini lokasinya dekat dengan lokasi pintu air PLTA Wonogiri, biasanya kalau ke Plaza pengunjung akan lewat jalan yangmana kita bisa melihat ke arah pintu air. Jadi kalau pintu air dibuka, ya bisa dilihat tuh limpasan airnya.

Orang Wonogiri kalau menyebut lokasi Patung Bedhol Desa adalah dengan sebutan Plaza. Alasannya kenapa saya juga nggak tahu.

Di sini pengunjung bisa bersantai-santai sambil menikmati aneka rupa panganan yang dijajakkan, melihat air Waduk Gadjah Mungkur, atau menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Kalau mau kemari, sebaiknya ngojol aja deh, Kalau nggak, pakai angkot tapi mungkin sewa, Karena sepertinya nggak ada yang langsung kemari.

5. Waduk Tandon

Nah, wisata Wonogiri selanjutnya yang tak jauh dari Stasiun Wonogiri adalah Waduk Tandon.

Untuk menuju kemari sebaiknya juga pakai ojol saja. Tapi kalau mau angkot tanya saja ke supirnya dulu ya. 

Kalau naik angkot mungkin bisa nganter sampai jalan besar arah ke waduk. Nanti tinggal jalan aja lurus. Ya walaupun agak jauh sih.

Waduk Tandon ini waduk yang memiliki suasana tenang dengan air yang juga tenang. Kalau pas pagi sejuk dan kalau pagi atau sore sering dipakai orang-orang buat jalan-jalan, lari-lari, sepedaan.

Kalau kemarau, waduknya mengering. Orang-orang biasanya juga akan menjadikan area waduk yang mengering sebagai lokasi alternatif wisata.

Tips

Oh ya, kalau mau nyari angkot, dari Stasiun Wonogiri, jalan ke timur aja ya. Terminal angkot ada di samping Pasar Wonogiri.

Angkutan Kota Wonogiri warnanya oranye, yang melayani berbagai rute.

Oh ya, kalau milih aktivitas wisata setelah naik kereta, pastikan dulu  kalian mau pulang naik apa dan jam berapa. Kalau pulangnya mau naik kereta lagi, maka pilih aktivitas yang mudah dijangkau saja.

Tapi kalau pulangnya mau naik bus ya santai sih. Asal nggak sampai di atas jam 16.00 cari bus masih mudah.


  • 0 Comments
Masjid Sheikh Zayed
Masjid Sheikh Zayed


FubukiAida.com - Masjid Sheikh Zayed Solo sudah resmi dibuka pada 1 Maret 2023 lalu.

Kalau kamu belum ke sana saat masjid ini dibuka, ya sama. Saya juga belum ke sana lagi setelah kunjungan sebelumnya di mana saat itu Masjid Sheikh Zayed masih ditutup untuk umum.

Nah, jika Kamu berencana datang ke Masjid Sheikh Zayed, kamu bisa merencanakan pergi ke masjid ini sembari mengunjungi sejumlah tempat wisata yang tak jauh dari masjid.

Ada beberapa lokasi wisata di dekat  Masjid Sheikh Zayed yang bisa dikunjungi sekalian saat kamu singgah di masjid ini.

Namun sebelum itu sedikit meluruskan, masih ada beberapa orang yang menyebut masjid dengan nama Masjid Al Zayed. Yang bener, namanya Masjid Sheikh Zayed ya.

Nah, berikut ini beberapa tempat wisata Solo dekat Masjid Sheikh Zayed:

1. Taman Tirtonadi

Taman Tirtonadi berlokasi tak jauh dari Masjid Sheikh Zayed. Taman ini berada tepat di depan Terminal Tirtonadi, Solo.

Adapun jarak Taman Tirtonadi dengan Masjid Sheikh Zayed Solo kurang lebih adalah 1,9 km.

Ketika berada di Taman Tirtonadi, pengunjung bisa menikmati pemandangan aliran Sungai Pepe yangmana alirannya nanti akan bertemu dengan Bengawan Solo.

Lokasi taman ini didesain untuk yang ingin bersantai sembari jalan kaki bersama orang-orang terkasih. Atau lari-lari pagi agar badan tetap bugar.

Di sepanjang Taman Tirtonadi ini akan ada bangku-bangku untuk duduk para pengunjung.

Meski lumayan menyenangkan berada di taman ini, tapi saran saya sebaiknya datang saat cuaca tidak sedang panas, seperti saat pagi atau sore hari.

2. Museum Lokananta

Bagi Anda yang datang ke Masjid Sheikh Zayed, maka bisa sekalian berwisata mengunjungi Museum Lokananta.

Jarak dari masjid menuju Lokananta ini adalah sekitar 3,9 km.

Lokananta dulunya adalah studio rekaman zaman Indonesia masih menggunakan kaset ataupun piringan hitam untuk menyimpan rekaman.

Lokananta cukup bersejarah karena pernah menjadi lokasi rekaman beberapa musisi terkenal masa lalu seperti Waljinah, Gesang, Mantous.

Almarhum Glen Fredly juga pernah rekaman di studio ini.

Walaupun Lokananta mengalami pasang surut yang cukup hebat, namun rasanya Lokananta tetap menjadi rekomendasi tempat yang seharusnya dikunjungi ketika ke Kota Solo.

Lokananta berdiri pada tahun 1956, studio musik ini adalah studio musik pertama yang ada di Indonesia.

3. Taman Balekambang

Wisata Taman Balekambang, memiliki jarak sekitar 2,8 km dari Masjid Sheikh Zayed.

Kalau Kamu bukan orang Solo, ketika mencari lokasi Taman Balekambang di GoogleMaps, hati-hati. Jangan sampai salah dengan Taman Balekambang Karanganyar.

Meskipun sama-sama namanya Taman Balekambang, namun Taman Balekambang Solo dan Karanganyar itu berbeda.

Untuk Taman Balekambang Solo, wisata yang ditawarkan adalah sauasana hutan kota.

Ada banyak pohon-pohon tinggi nan rindang dengan rerumputan yang tertata rapi.

Suasana di sini begitu segar, dan makin menyenangkan karena adanya danau di antara taman.

Taman Balekambang sendiri merupakan lokasi yang cukup bersejarah di Kota Solo lantaran taman ini telah ada sejak tahun 1921 .

Taman ini kerap dijadikan lokasi gathering bersama organisasi atau komunitas.

Ketika berkunjung ke taman ini, pengunjung juga bisa menikmati wahana bebek air yang tentunya seru dan menyenangkan.

4. Pura Mangkunegaran

Rekomendasi selanjutnya ketika mengunjungi Masjid Sheikh Zayed Solo, pengunjung bisa sekalian mampir ke Pura Mangkunegaran.

Pura Mangkunegaran dari masjid ini memiliki jarak sekitar 2,5 km.

Belakangan sejak dijadikan lokasi pernikahan Kaesang Pangarep, nama Pura Mangkunegaran memang cukup moncer.

Keraton Mangkunegaran bisa menjadi alternatif keraton yang dikunjungi, apalagi jika Anda sudah sering datang ke Keraton Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: Melihat Masjid Baru di Kota Solo Sheikh Zayed, Disebut-sebut Replika Masjid di Dubai

  • 0 Comments
masjid baru solo
Docpri

FubukiAida.com - Baru-baru ini sebuah masjid baru di Kota Solo didirikan dengan megahnya di kawasan Gilingan, Banjarsari-Solo.

Adapun masjid baru yang didirikan di Solo ini diberi nama Masjid Sheikh Zayed.

Masjid baru tersebut cukup menarik banyak antusiasme masyarakat, baik masyarakat Solo, maupun warga sekitar Solo Raya.

Serta masyarakat dari berbagai kota yang tengah menikmati waktu liburan di Kota Solo maupun mereka yang sekedar penasaran dengan masjid baru  ini.

Masjid hadiah dari Dubai

Masjid  Sheikh Zayed memiliki warna dominan masjid putih, dengan garis-garis berwarna kuning keemasan.

Kubah masjid memiliki bentuk khas ala-ala masjid Timur Tengah dengan beberapa kubah seperti separuh lingkaran.

Masjid ini konon merupakan hadiah dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) dan diresmikan pada Senin (14/11/2022) lalu.

Adapun kabarnya masjid ini merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi sana.

Jadi pumpung belum bisa main-main ke Abu Dhabi, bisa lah mengunjungi masjid baru di Solo dulu.

Belum dibuka

Saat saya dan sepupu berkunjung ke Masjid Sheikh Zayed beberapa minggu lalu, masjidnya masih belum buka.

Di beberapa titik, bendera putih Waskita terlihat berkibar seolah penanda proses pembangunan masih dilanjutkan.

Baca Juga: Selow di Masjid Fatimah Solo

Seperti tak peduli meskipun belum buka, pengunjung tetap membludak mengitari area masjid ini di luar garis penanda pengunjung tak diperbolehkan masuk.

Yah,mungkin mereka sama seperti saya yang juga penasaran dengan masjid baru di Solo tersebut.

Ada gula ada semut, di mana ada keramaian maka di situ akan selalu ada orang berdagang dan tukang parkir. Begitupun di masjid baru ini. 

Ada banyak pedagang makanan dan minuman yang membuka lapak-lapak di depan masjid Raya Sheikh Zayed.

Serta tukang-tukang parkir yang sibuk mengarahkan pengunjung agar bersedia ditata motor dan mobilnya.

Bahkan ada tukang foto sekali jadi di depan masjid ini.

Dari pantauan saya kebanyakan pengunjung yang mendatangi lokasi ini merupakan rombongan yang terlihat datang dari luar kota.

Mulai dari rombongan pengajian dengan ibu-ibu berbaju gamis dan bapak-bapak bersarung.

Hingga rombongan keluarga bahagia sejahtera dengan orang tua, dua anak dan kakek - neneknya.

Sementara yang lain adalah anak-anak muda kekinian yang mungkin usia SMA.

Yeah, hari itu meskipun bukan hari Minggu tapi pengunjung cukup banyak mendatangi masjid baru Solo ini.

Kami sendiri tak terlalu lama berada di sana, selain karena masjid belum buka dan belum bisa masuk ke dalam, hawa siang hari itu sangatlah panas terasa.

Kedatangan kami saat itu bertepatan dengan waktu dzuhur, kami akhirnya memilih menyempatkan diri untuk sholat di masjid kecil yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari masjid ini.

Saat mendatangi masjid kecil itu saya cuma mbatin, kalau masjid baru sudah dibuka, masjid kecil ini apa ya tetap bakal dipakai sholat ya mengingat jaraknya yang tak terlalu jauh? Ya, semoga dua-duanya tetap jalan ya. 

Cara menuju masjid baru di Kota Solo

Kalau ingin menuju ke masjid baru di Kota Solo yang diresmikan Jokowi dan Presiden Dubai, maka cara paling mudah adalah menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil.

Tapi kalau ingin menggunakan kendaraan umum maka bisa naik bus atau kendaraan lain dan turun di Terminal Tirtonadi.

Selanjutnya bisa order gojek buat ngantar ke masjid baru Solo Sheikh Zayed atau menggunakan Batik Solo Trans (BST) yang bisa dinaiki dari halte terminal ini.

Petunjuk lokasi menuju masjid ini yakni perempatan pom bensin Manahan lurus terus ke arah Terminal Tirtonadi.

Selanjutnya sampai di bangjo terminal Tirtonadi masih lurus terus sampai melewati Hotel Swiss Bell, lurus terus nanti masjidnya terlihat di kanan jalan kok.

Sementara untuk datang ke lokasi ini tak ada biaya khusus yang dipatok.

Namun pengunjung cukup bayar biaya parkir motor.

Alamat selengkapnya dari masjid baru di kota Solo bisa dilihat di google Maps berikut

  • 2 Comments

Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur
FubukiAida.com – Bagi yang ingin liburan ke Wonogiri, mungkin bertanya-tanya bagaimana cara untuk mengunjungi Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur.

O.W Gajah Mungkur adalah salah satu tempat wisata ikonik yang ada di Wonogiri sehingga rasanya sayang sekali kalau datang ke Wonogiri tapi nge-skip datang ke OW Gajah Mungkur.

Jika Anda merupakan pengunjung dari Solo, untuk mengunjungi Waduk Gajah Mungkur, bisa dimulai dengan naik kereta Batara Kresna atau bisa juga naik bus jurusan Wonogiri.

Selanjutnya Anda bisa turun di Wonogiri Kota jika bus Anda adalah bus arah Pacitan, Batu, dan Tirtomoyo). Tapi jika bus yang Anda naiki dari Solo adalah bus jurusan Pracimantoro maka terus sajaa.

Bisa disimak tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana cara ke Wonogiri dari Solo.

Selanjutnya jika Anda dari Wonogiri dan ingin ke Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur, maka di sini saya asumsikan Anda ingin berangkat dari Wonogiri kota.

Cara menuju Waduk Gajah Mungkur

Menuju ke Waduk Gajah Mungkur dari Wonogiri kota, sebenarnya cukup mudah jika Anda menggunakan sepeda motor.

Tinggal ikuti saja rute jalan arah ke Praci nanti pasti akan melewati Waduk Gajah Mungkur.

Tapi bagi Anda yang ingin menuju Waduk Gajah Mungkur dengan transportasi umum maka bisa melakukannya dengan beberapa cara.

Cara pertama menuju Waduk Gajah Mungkur Anda bisa menggunakan angkot.

Anda bisa datang ke terminal Kota Wonogiri yang ada di samping Pasar Wonogiri.

Nanti carilah angkuta atau angkot yang warnanya oranye yang memang bisa mengantar ke Obyek Wisata Gajah Mungkur.

Cara lain, Anda bisa datang ke Gudang Seng terlebih dahulu.

Titik maps Gudang Seng Saya share di bawah ini ya.

Jadi dari Gudang Seng, nantinya Anda bisa menunggu angkot jurusan OW Gajah Mungkur. Atau bisa pula di Gudang Seng Anda menunggu bus jurusan ke Pracimantoro.

Setelah naik, nanti mintalah turun di Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur.

Anda juga bisa menggunakan Gojek yang langsung mengantar ke OW Waduk Gajah Mungkur.

Atau bisa pula menggunakan Gojek untuk mengantar ke Gudang Seng baru selanjutnya sambung angkot/bus.

Ada apa saja di Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur?


Saya sudah lama sekali tidak mengunjungi Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur.

Yang pasti di sini ada kebun binatangnya, arena bermain anak, kuliner, wahana naik kapal, banana boat, terbaru kabarnya akan ada jembatan kaca yang akan dibangun.

Gambaran beberapa hal yang bisa dilakukan jika datang ke Waaduk Gajah Mungkur mungkin bisa disimak di tulisan saya sebelumnya.

Baca Juga: 7 Aktivitas Asyik ini Bisa Kamu Lakukan Saat Wisata Ke Waduk Gajah Mungkur

Saya terakhir ke Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur sepertinya sekitar 3 tahun lalu.

Saat itu cukup kaget dengan perubahan yang ada. 

Cukup kaget karena banyak pedagang yang entah kemana. Namun dari informasi yang saya dengar, kabarnya saat itu para pedagang dipusatkan di area khusus makanan yang lokasinya tak begitu jauh dari lapangan. 

Jadi ada bagian khusus warung-warung makan di sana.. 

Agak kurang sreg sih sama penataannya saat itu. Karena kejadian di rombongan saya dan teman-teman, habis jalan-jalan di area kebun binatang kan lapar, eh warung makan yang jual nila bakar yang merupakan khasnya Wonogiri malah masih jauh.

Akhirnya karena udah capek muter-muter kebun binatang akhirnya kita ya cuma leyeh-leyeh di salah satu bekas warung yang ada di sana.

Nggak tahu ya bagaimana model penataan Waduk Gajah Mungkur yang sekarang. Semoga sih sudah diperbaiki. Lebih seru kalau ada banyak pedagang tanpa perlu terpusat sih menurut saya. Seperti dulu. Ya gapapa sih terpusat, tapi ya tetep banyak yang tersebar.

Soalnya kan area OW Gajah Mungkur itu luas, nggak semua orang mau jalan dari ujung ke ujung. Beberapa cuma pengen nyari satu sudut yang masih kosong, ngumpul bareng keluarga terus njajan dibawa ke tempat kumpulnya.

Ya semoga ke depan OW Gajah Mungkur kian baik.

  • 1 Comments

kolam renang khusus perempuan


FubukiAida.com – Salah satu opsi jika ingin berolahraga, biasanya saya lebih memilih berenang.

Biarpun kemampuan renang dari dulu hingga sekarang sepertinya nggak banyak kemajuan, tetep menurut saya berenang adalah sesuatu yang mengasyikkan.

Nah baru-baru ini saya mendatangi kolam renang khusus perempuan yang ada di Wonogiri.

Kolam renang Wonogiri khusus perempuan

kolam renang lyana tirta
Kolam renang khusus perempuan di Lyana Tirta

Kolam renang yang saya datangi tersebut adalah Kolam Renang Lyana Tirta. 

Kolam renang di Lyana Tirta ini cukup lengkap karena ada pilihan kolam renang umum, anak dan juga khusus wanita.

Wonogiri sebenarnya memiliki cukup banyak kolam renang sebagaimana yang pernah saya bahas sebelumnya.

Baca Juga: Kolam Renang Wonogiri dari Diafan, Soko Langit sampai Omah Watu | Lengkap dengan Lokasi dan Harga Tiket

Namun tampaknya hanya di kolam renang Lyana Tirta inilah ada kolam renang yang khusus disediakan untuk cewek atau perempuan.

Tentunya bagi sebagian perempuan berenang di kolam renang yang memang khusus disediakan untuk perempuan memberikan kenyamanan tersendiri.

Kehadiran kolam renang Lyana Tirta ini jadi angin segar buat saya karena ini berati saya nggak perlu jauh-jauh lagi kalau lagi pengen renang di kolam renang khusus perempuan.

Selama ini saya kalau nyari kolam renang khusus cewek nyarinya di sekitaran Solo atau Klaten seperti tulisan saya tentang kolam renang khusus perempuan di Solo sebelumnya.

Baca Juga: 3 Kolam Renang Khusus Perempuan di Solo

Harga tiket renang di Kolam Renang Lyana Tirta

kolam renang Lyana Tirta

Bagi yang ingin berenang di kolam renang Lyana Tirta, harganya cukup terjangkau.

Kolam renang Lyana Tirta tarif renangnya adalah Rp 15.000 per orang.

Oh iya, untuk berenang di Kolam Renang Khusus Perempuan Lyana Tirta ini kamu harus mengenakan pakaian renang ya.

Pengalaman kemarin kalau pakai kaos tidak diperkenankan.

Kedalaman Kolam Renang Lyana Tirta Wonogiri

kolam renang Wonogiri

Kolam Renang Lyana Tirta Wonogiri bagian kolam renang perempuan memiliki kedalaman 130 cm.

Sedangkan kolam renang umum dewasa kedalaman sekitar 150 cm.

Adapun untuk kolam anak, saya kemarin tidak begitu memperhatikan, kapan-kapan saja kalau dapat infonya saya update.

Secara keseluruhan menurut saya kolam renang Wonogiri ini sebenarnya cukup bersih dan lengkap.

Akan tetapi, satu kurangnya kalau menurut saya, yakni tidak adanya penutup bagian atap di kolam renang perempuan.

Jadi, kalau berenang di kolam perempuannya saat siang terik, ya siap-siap aja kepanasan.

Semoga sih ke depan ownernya ngasih penutup atap, nggak harus yang bagus macam penutup atap di bagian kolam umum.

Menurut saya sih cukup penutup kain hitam macam tile seperti yang dipakai di beberapa kolam lainnya udah cukup.

Lokasi

Kolam renang perempuan Wonogiri Lyana Tirta berlokasi di samping Pom Bensin Brumbung, deket toko DIY Wonogiri.

Oh iya kolam renang Lyana Tirta ini menyediakan bangku dan juga warung.

Jadi selesai berenang bisa makan dulu atau jajan di sana.

Baca Juga: Kolam Renang Gunung Pegat Sukoharjo, Informasi Tiket Renang


  • 2 Comments
Pemandangan Gunung Pegat dari camping ground


FubukiAida Blog – Bagi orang Wonogiri, kalau mendengar Gunung Pegat, pasti mikirnya langsung ke Gunung Pegat daerah Nguntoronadi-Wonogiri yang terkenal dengan mitos-mitosnya.

Namun berbeda dengan orang Sukoharjo.

Di Sukoharjo, ternyata juga terdapat Gunung yang disebut dengan Gunung Pegat.

Menariknya, berbeda dengan Gunung Pegat Wonogiri yang umumnya ditakuti, kalau di Sukoharjo Gunung Pegat justru dijadikan lokasi wisata.

Lokasi Gunung Pegat Sukoharjo

Gunung Pegat Sukoharjo berlokasi di Karangasem, Kecamatan Bulu Sukoharjo.

Rute untuk kesana yakni bisa melewati terminal Wonogiri belok ke kanan lalu tinggal lurus saja.

Lurus ke arah Pule ikuti jalan raya hingga di sisi kanan ada Kantor BRI Tiyaran.

Pokoknya sebelum ke arah Gunung Sepikul.

Nah, di dekat BRI Tiyaran ini ada belokan ke kanan, tinggal ikuti saja petunjuknya.

Nanti sampai ketemu dengan area persawahan luas, kemudian ada belokan arah jembatan kecil.

Jika bingung tinggal tanya saja orang sekitar.

Nantinya untuk menuju ke Gunung Pegat Sukoharjo pengunjung perlu melewati tanjakan, sehingga sebelum berangkat pastikan motor atau mobil dalam kondisi prima.

Baca Juga: Dari teriknya Gunung Sepikul Menuju Sejuknya Batu Seribu

Ada apa di Gunung Pegat Sukoharjo?


Gunung Pegat Sukoharjo ini ideal untuk melihat sunrise.

Pernah suatu pagi saya kemari dan melihat megahnya matahari mengintip malu-malu dari celah-celah awan.

Tampak mempesona, berpadu dengan indahnya area persawahan sekitar.

Gunung Pegat Sukoharjo ini juga bisa dijadikan camping ground, tempat outbound, juga jadi jujugan para pesepeda yang ingin berolahraga.

Jika hari minggu pagi tiba, biasanya ada banyak bikers yang bersepeda sampai ke Gunung Pegat.

Gunung Pegat Sukoharjo saat hari Minggu pagi, juga dilengkapi dengan keberadaan pasar kuliner.

Ada cukup banyak pilihan kuliner saat di sini.

kuliner Gunung Pegat

Gunung Pegat Sukoharjo juga dilengkapi dengan spot-spot menarik untuk foto-foto seperti spot kapal, dan balon udara.

Terbaru, di Gunung Pegat saat ini tersedia wahana kolam renang dan juga trampoline.

Kolam renang di Gunung Pegat ini merupakan kolam renang outdoor yang berdiri di pinggiran bukit.

Sembari berenang pengunjung bisa menikmati pemandangan dari ketinggian.

Tarif renang di Gunung Pegat ini Rp 5.000, sedangkan untuk main trampolin juga Rp 5.000

Baca Juga: Kampung Pitu Nglanggeran, Perkampungan Unik di jogja

  • 0 Comments



FubukiAidaBlog – Kolam renang Soko Langit adalah kolam renang di Wonogiri yang menyajikan pemandangan pegunungan yang luar biasa cantik.

Untuk bisa masuk ke kolam renang Soko Langit, pengunjung cukup membayar tiket masuk yang murah meriah.

Berapa tiket masuk dan renang di Soko Langit tahun 2022?

Tiket masuk Soko Langit

Menurut update terbaru dari seorang teman yang Juli 2022 ini main ke Soko Langit, tiket masuk ke Soko Langit terbaru adalah Rp 10.000.

Adapun tiket renang di Soko Langit adalah Rp 8.000.

Dengan harga yang terjangkau, pengunjung sudah bisa menikmati sensasi berenang di Rooftop ala resort mewah.

Menariknya, kolam renang ini didukung dengan area kolam renang yang cukup luas dan hawa yang sejuk dingin karena berada di Lereng pegunungan Lawu Selatan.

Kegiatan apa yang bisa dilakukan saat di Soko Langit?

Sejumlah kegiatan yang bisa dilakukan di Soko Langit di antaranya adalah berenang, foto-foto, dan juga makan.

Oh iya, area ini juga dilengkapi flying fox yang bisa dijajal para pengunjung.

Jika masih memiliki waktu luang di Soko Langit, pengunjung juga bisa datang ke Goa Resi.

Jadi Goa Resi bulukerto ini lokasinya tak jauh dari Soko Langit.

Tepanya setelah gapura Desa Conto, pengunjung bisa belok ke kanan untuk ke Goa Resi.

Nah, Goa Resi ini sekarang sudah dikelola sedemikian hingga.

Pengunjung bisa ke Goa Resi dengan menggunakan kendaraan semacam angkot yang disediakan.

Sayangnya saya belum ke Goa Resi terbaru, jadi belum bisa cerita banyak.

Kapan waktu ideal berenang di Soko Langit?

Kalau saran saya jika berenang di Soko Langit sebaiknya datang sepagi mungkin.

Hal ini supaya bisa mendapatkan suasana kesejukan pagi hari mengingat matahari pagi belum terlalu terik.

Selain itu, datanglah saat bukan hari libur, supaya kolam renang tidak terlalu ramai pengunjung.


 

  • 1 Comments

Omah Demit, Bukit Patum 


Awal tujuan saya datang ke Bukit Patrum sebenarnya bukan untuk mengunjungi bukit yang ternyata memiliki nilai sejarah. Awal kedatangan saya kemari sebetulnya untuk melihat Teratai…

***

Belakangan, di media sosial Instagram unggahan mengenai spot foto dengan pemandangan bunga teratai di Klaten viral usai diunggah oleh sejumlah akun admin medsos wilayah Soloraya. 

Karena kebetulan saya dan Nana baru seneng-senengnya sama Drama China 'The untamed' dimana di cerita itu ada sebuah tempat penuh bunga teratai yang disebut dengan Dermaga Lotus, maka begitu melihat hal-hal berbau teratai kita jadi girang banget dan pengen datang ke tempat itu. Haha. Konyol banget ya, di usia segini masih gini banget kelakuan kita.

Singkat cerita, lokasi bunga-bunga teratai itu adalah di Kawasan Bukit Patrum. 

Ekspektasi kita udah tinggi banget pas mau datang kemari. 

Bayangan foto ala di Dermaga Lotus sudah memenuhi kepala.

Setelah perjalanan kurang lebih 45 menit  dari Wonogiri, saya, Nana, juga 3 sepupu saya yang lain akhirnya sampai juga di  Taman Teratai yang ternyata ada di wilayah Bukit Patrum.

Begitu tiba kami langsung menuju sebuah gazebo, meletakkan barang-barang sembari mengamati sekitar.

Pandangan kami lempar ke berbagai arah mencari di mana tanaman teratai yang viral itu berada.

Hingga akhirnya mata kami tertuju pada sebuah kolam, entah harus saya sebut kolam, danau atau genangan air. Yang jelas tempat itu seperti bekas galian dengan air di dalamnya.

Tepat di atas kolam itu, beberapa menthog terlihat asyik berenang-renang di sana.

Saya bertanya-tanya, “mana teratainya?”

Saya kemudian melempar pandang ke sekitar, namun hanya terlihat menthog

Baru saat pandangan mata saya alihkan ke sisi depan, saya baru ngeh bahwa ada tumpukan warna merah yang ternyata merupakan tumpukan teratai layu.

Teratai layu itu tergeletak tak bertenaga di bekas galian yang kering tanpa air.

Sudah tidak musim tumbuhkah teratainya? batin saya.

Nana tiba-tiba berteriak girang, “Itu di sana masih ada,” tunjuknya.

Ia kali ini menunjuk ke sisi di mana galian tanah tampak masih memiliki air. Dan ya, masih ada tertatai di sana.

Tapi serius, jika bukan karena Nana kekeh bersemangat mendatangi teratai itu saya benar-benar malas.


Bagaimana tidak, lokasi di sana terlihat tak terawat,  dan berantakan. Jauh dari ekspektasi.

Apalagi, teratai-teratai itu tengah tidak mekar. Seorang penjual warung mengatakan bahwa teratai itu baru mekar jika hari masih pagi serta beranjak sore.

Kami datang terlalu siang saat matahari sedang terik-teriknya. Tak heran teratai itu layu.

Namun yah karena sudah terlanjur sampai kemari kami tetap berusaha menikmati lokasi.

Mengetahui sejarah bukit Patrum

Bukit Patrum

Namun yang kemudian menjadi menarik dari perjalanan ini adalah justru Bukit Pathrumnya.

Karena kebiasaan saya jarang browsing dulu secara detil mengenai tempat yang kami kunjungi saya tidak tahu apa-apa bahwa dekat taman teratai itu ternyata ada daerah perbukitan yang cukup ikonik.

Saya tidak menyebutnya bagus, tapi ikonik.

Yap, ikonik karena di bukit itu terdapat sebuah bukit yang jika dilihat dari bawah penampakannya layaknya Kawasan wisata Widosari, Kulon Progo.

Yang menjadikannya khas adalah adanya satu bagian bukit yang berdiri sendiri persis di Widosari. Bedanya, di atas bukit itu terdapat sebuah rumah satu-satunya yang menduduki puncak bukit itu.

Di sekitar bukit itu terlihat jelas bekas-bekas galian tambang, sehingga bangunan ini juga mengingatkan saya dengan film Up karena hanya ada satu-satunya rumah di sana.

“Kenapa pak, Namanya Bukit Patrum?” tanya saya pada seorang warga yang baru saja merumput di sekitar lokasi.

Sembari menstater motornya, ia menceritakan bahwa bukit itu ternyata memiliki cerita yang berkaitan dengan jaman kolonial.

Saya sedikit kaget, karena sama sekali tak mengira bahwa bukit ini memiliki sejarah panjang.

“Nggak tahu ya mbak, hanya saja ini sudah dari jaman Belanda. Mungkin itu Bahasa Belanda,” terangnya.

Ia kemudian menunjuk sebuah rumah satu-satunya yang berdiri di sana.

“Itu rumah sudah ada dari sejak zaman Belanda,” ceritanya.

“Itu dahulu digunakan untuk markas pemantauan tentara Belanda. Dulu di sana ada alat-alat pantaunya. Tapi terus udah nggak ada,” tambahnya

Yang lebih mengejutkan lagi, bapak yang sayangnya lupa saya tanyai namanya itu menceritakan bahwa dulunya antara Bukit Patrum dan Bukit Sidoguro dulunya adalah satu bagian.

Dahulu kedua bukit saling terhubung namun kemudian penggalian batu di sana menyebabkan bukit kemudian terpisah.

Saya setengah tak percaya. Namun jika melihat di sekitar lokasi memang terlihat bekas-bekas galian lama.

Dari strukturnya, Bukit Patrum ini merupakan perbukitan batuan kapur, dengan struktur khas bukit-bukit batu yang kerapkali ditemui di wilayah Wonogiri dan Gunung Kidul.

Si Bapak kemudian mengatakan bahwasanya dahulu terdapat tangga-tangga yang disusun untuk menuju rumah di Bukit Patrum tersebut. Namun kini sudah dihilangkan entah karena apa.

Usai menceritakan cerita singkat itu, si bapak kemudian pamit kembali ke rumah. Kami mengiyakan meskipun sejatinya masih ingin bertanya lebih lanjut.

Siang itu, di tengah terik matahari, kami kemudian tetap memutuskan naik ke Bukit Patrum. Yang kami naiki adalah bukit yang besar yang terpisah dari bukit dengan rumah di atasnya itu.

Untuk menuju ke bukit ini kami diharuskan menaiki sejumlah tangga semen yang kemudian disambung dengan tangga besi.

Hari itu hanya ada dua rombongan pengunjung yang datang selain kami. Rombongan pertama adalah sepasang muda-mudi yang duluan turun dari atas, dan segerombolan remaja perempuan yang memilih menghabiskan waktu di gazebo dekat tangga yang ada di bagian bawah.

Sementara kami, memilih terus mendaki hingga ke atas.

Bagian atas bukit Patrum ternyata juga terdapat gazebo. Sementara dari gazebo itu juga terdapat tangga besi lagi yang disandarkan di atas batu besar.

Batu inilah yang ketika dinaiki akan membawa kami ke puncak Bukit Pathrum.

Saat naik ke atas pemandangan yang tersaji adalah Kawasan perbukitan batuan kapur, persawahan serta terlihat Bukit Sidoguro. Pemandangan Bukit Sidoguro jika dilihat dari sini memang terlihat satu garis lurus. Namun rasanya lokasi bukit itu masih sangat jauh.

Jika benar perkataan warga tadi bahwa kedua bukit ini dulunya menyatu sangat mengerikan berarti proses penambangannya. Bayangkan saja bagaimana tambang menghabisi gunung.

Ahh, saya selalu merinding kalau membicarakan hal berbau tambang.

Pasalnya, aktivitas menambang gunung juga ada di Wonogiri. Di sejumlah tempat banyak gunung-gunung ditambang diambil batunya yang saya tidak tahu apakah itu illegal atau tidak.

Tak hanya itu, di sejumlah wilayah di Gunung Kidul, tambang-tambang batu juga banyak, bahkan ada satu tempat yang saya dapat cerita itu dulunya adalah bentangan gunung padahal kini ketika saya ke sana yang saya temukan ternyata tempat itu adalah sebuah sekolah dan tanah lapang yang kosong.

Dan membicarakan kegiatan tambang gunung semacam ini selalu mengingatkan saya pada sebuah ucapan teman, bahwa gunung adalah pelindung bencana, jika sebuah wilayah dekat dengan gunung (bukan gunung berapi) maka wilayah itu umumnya aman dari bencana. Maka jika gunung itu ditambang maka ya alamat ada bencana di sekitar wilayah itu.

Well balik lagi ke Bukit Patrum, dari puncak Bukit Patrum, saya juga bisa mengamati rumah yang nampak berdiri sendiri itu.

Rumah yang konon peninggalan Belanda itu terlihat berukuran tak terlalu besar, dan terlihat begitu kusam dan gelap.

Seandainya pun tangga-tangga pada dinding batu menuju rumah itu masih ada, mungkin saya juga tak akan berani mendatanginya.

Tidak begitu jelas bagaimana asal-usul Bukit Patrum yang sebenarnya.

Namun, jika melansir laman Tribunews rumah di Bukit Patrum ini disebut dengan ‘omah Demit’ atau rumah hantu.

Konon rumah itu adalah lokasi Gudang mesiu atau patrum (semacam bahan peledak) di zaman Belanda. Karena itulah mungkin Bukit ini kemudian disebut Bukit Patrum.

Sementara jika melansir dari laman Sorot Klaten, dijelaskan di bukit ini memang terdapat aktivitas tambang batu yang menggunakan bahan peledak sehingga bukit yang dulunya lurus menjadi tidak beraturan akibat penambangan baik menggunakan peledak maupun secara manual.

Adapun kini aktivitas penambangan batu di wilayah ini telah dilarang. Akan tetapi menurut cerita bapak yang mencari rumput tadi, aktivitas penambangan di wilayah Patrum sudah tidak diperbolehkan namun penambang berpindah ke bagian sebrang Bukit Patrum

Jika dilihat dari puncak, sebrang Bukit Patrum memang terlihat bukit-bukit bekas galian. Namun apakah yang itu atau bukan saya tidak tahu pasti.

  • 0 Comments

Bendungan serbaguna wonogiri
Tulisan Bendungan Serbaguna Wonogiri terlihat dari Bendungan Baru Plosorejo
(Sumber: docpri)


Fubuki Aida Blog – Jika mengunjungi Plaza Wonogiri, atau yang biasa dikenal dengan Patung Bedhol Desa, maka yang tampak di tulisan dinding bukit dekat PLTA Wonogiri adalah tulisan “Bendungan Serbaguna Wonogiri”.

Ini menjadi pertanyaan, kenapa namanya demikian, padahal tulisan tersebut berada di samping waduk yang selama ini dikenal dengan nama waduk Gajah Mungkur?

Beberapa tahun belakangan, baru saya tahu hal ini karena nama resmi Waduk Gajah Mungkur sebenarnya adalah “Waduk Serbaguna Wonogiri”.

Lantas, kenapa kemudian Waduk Gajah Mungkur diberi nama “Gajah Mungkur”?

Ada sejumlah asumsi terkait penamaan ini. Di sejumlah literatur yang silahkan dicari sendiri di internet,  penamaan Waduk Gajah Mungkur ini konon diberikan oleh Presiden Suharto dengan mengambil nama Gunung Gajah Mungkur yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

Tapi ini menimbulkan keganjilan

Untuk beberapa orang yang sudah tau Gunung Gajah Mungkur Sukoharjo, mungkin merasa aneh jika penamaan waduk dikaitkan dengan lokasi tersebut.

Alasannya karena lokasi Waduk Gajah Mungkur Wonogiri jauh dari Gunung Gajah Mungkur yang ada di Sukoharjo tersebut.

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang banyak beredar di internet, pakde saya memiliki pandangan lain soal penamaan Waduk Gajah Mungkur ini.

Penamaan Gajah Mungkur

Dalam kunjungan saya ke rumahnya beberapa tahun lalu, sebagaimana masih bagian dari percakapan saya saat menanyakan mengenai “Benarkah di waduk gajah mungkur ada satu keluarga yang ditenggelamkan?”

Ketika itu, pakde menjelaskan asal usul penamaan Waduk Gajah Mungkur menurut versi yang ia ketahui.

“Jadi dulu pernah direncanakan pembuatan waduk sejak jaman Belanda,” ujar Pakde 1.

Baca Juga: Masa Lalu Waduk Gajah Mungkur yang Datang Kembali

Singkatnya, pada jaman keraton di era masih penjajahan Belanda, rencana pembuatan Waduk Gajah Mungkur telah ada.

Namun, pakde menyebut posisi waduk tersebut bukan berada di posisi pembangunan waduk yang saat ini ada.

“Waduk yang sekarang, bukan Waduk Gajah Mungkur yang pertama dulu (jaman Belanda) direncanakan. Namanya lebih dikenal  'Gajah Mungkur' dibanding 'Waduk Serbaguna' karena terkenalnya rencana yang pertama itu namanya,” ujar dia.

Meski demikian, pakde tak bisa memastikan jaman keraton yang ia maksud tersebut apakah saat masa keraton Kasunanan atau Mangkunegaran. Namun menurutnya jika diurutkan kemungkinan saat era Mangkunegan mengingat Wonogiri adalah bagian dari Mangkunegaran.

Beliau saat saya konfirmasi ulang akhir Januari lalu menyebut, tidak tau pasti terkait rancangan pertama waduk, karena beliau sendiri tidak melihat langsung dokumen lama dari rancangan pertama waduk tersebut.

“Aku tidak melihat dokumennya. Cuma saat orang-orang pada kemari (Ir Sutami dan rombongan) mengatakan bahwa akan dibangun waduk di sini namun berbeda dengan rancangan waduk yang pertama,” ujarnya.

Adapun nama Gajah Mungkur, menurutnya nama tersebut berasal dari nama gunung yang terlihat seperti ‘Gajah Mungkur’ atau gajah yang membalikkan badannya dan bersiap pergi.

Adapun Gunung Gajah Mungkur yang ia maksudkan menurutnya adalah gunung yang terlihat dari Lapangan Korjo Wonogiri (dekat SMP N 1 Wonogiri).

Dalam pemahaman pakde gunung itu yang disebut sebagai Gajah Mungkur dan bukan gunung yang ada di administratif Sukoharjo.

Suatu ketika, saat saya melihat-lihat ke Lapangan Korjo, Wonogiri saya rasa saya tahu gunung yang dimaksud pakde.

Hal ini karena ada satu gunung yang jika diamati sekilas  mirip dengan Gunung Gajah Mungkur Sukoharjo dari kejauhan dengan puncak membentuk "plenukan" dan di sisi ujungnya seperti membentuk turunan panjang.

Dan jika dilihat-lihat menurut saya memang mirip dengan seekor gajah dimana turunannya yang miring mirip dengan telalai gajah (dilihat dari sekitar Lapangan Korjo)

Saya mencoba memotret gunung tersebut namun saya mengambil gambar dari dekat jalan menuju Gardu Pandang Bendungan Serbaguna.

Gunung Gajah Mungkur
Gunung diduga sebagai Gunung Gajah Mungkur
Foto diambil dari Jalan kalau ke kiri ke Tulisan Bendungan Serbaguna
dan kalau lurus ke Soto Pencil

Saat saya memastikan mengenai foto tersebut pakde mengiyakan bahwa yang ia yakini sebagai Gunung Gajah Mungkur adalah gunung tersebut.

Namun dari penjelasan pakde menurutnya Gajah Mungkur tersebut adalah rangkaian perbukitan bukan gunung yang berdiri sendiri.

"Ya itu. Urutannya mulai dari Layang Gantung Lawas (Watu Cenik) ke barat," ungkapnya.

Juga termasuk dengan bukit di mana tulisan bendungan serbaguna berada.



"Itu kalau didekati  pedot-pedot (Gunungnya pisah-pisah).  Miripnya Gajah Mungkur kalau dulu mirip jika dilihat dari Wonogiri kota," ujarnya.

Meskipun belum pasti saya rasa cerita pakde ini menjadi lebih masuk akal jika dibandingkan mengaitkan dengan Gunung Gajah Mungkur yang ada di Sukoharjo. 

Jika melansir catatan Harian Kompas pada 7 Januari 1976, nama "Gajah Mungkur" juga sudah disebutkan sebelum peresmian dilakukan.

Pemberitaan mengenai Waduk Gajah Mungkur tersebut berjudul "Waduk Serbaguna "Gajah Mungkur" Sudah Mulai Digarap".

Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa Departemen Fakultas Pertanian UGM bekerjasama dengan Proyek Bengawan Solo berdasarkan survei telah dapat menentukan lokasi pembangunan bendungan. Yakni mulai dari Gunung Gajah Mungkur hingga Desa Petir, lebih kurang 2 km sebelah selatan kota Wonogiri.

Saya rasa ini menjadi masuk akal jika Gunung Gajah Mungkur adalah sebagaimana yang dimaksud pakde mengingat bendungan masih berada di kawasan Desa Petir, Pokoh Kidul.

Baca Juga: Kolam Renang Soko Langit, Kolam Rooftop Rasa Ubud di Wonogiri

Sejarah Waduk Gajah Mungkur

Gunung Gajah Mungkur


Dalam percakapan bersama pakde beberapa tahun lalu ini, pakde menjelaskan pula mengenai sejumlah alasan pembangunan waduk.

“Kenapa dibuat? Karena dahulu setiap tahunnya banjir dari Wonogiri sampai ke Surabaya sana,” jelasnya.

Hal ini karena aliran Sungai Bengawan Solo memiliki banyak hulu di Wonogiri.

Aliran hulu-hulu inilah yang sekarang ditampung di Waduk Gajah Mungkur.

Hulu tersebut diantaranya adalah Sungai Pidekso. Adapula Sungai Wiroko yang berasal dari Tirtomoyo. Kemudian terdapat Sugai Keduwang juga Sungai Walikan yang berasal dari lereng Gunung Lawu.

Di samping pembangunan waduk utama, sejumlah waduk-waduk kecil menurutnya juga dibangun untuk mendukung fungsi utama Waduk Gajah Mungkur.

Waduk-waduk kecil yang ia maksud tersebut di antaranya adalah Waduk Song Putri untuk membendung aliran dari sungai-sungai di Eromoko. Serta ada bendungan lain seperti adanya Waduk Nawangan di Wuryantoro.

Pakde mengatakan rencana pembangunan waduk yang saat ini menjadi Waduk Gajah Mungkur berangkat dari terjadinya peristiwa banjir besar di tahun 1966 yang menyebabkan Kota Solo  tenggelam.

Peristiwa banjir besar sendiri berdasar pengalaman saya menjadi sebuah peristiwa yang sampai hari ini masih  kerap dijadikan lelucon orang-orang Solo kalau bercanda dengan orang Wonogiri. Kerap kali mereka berkata: "Jangan macem-macem sama orang Wonogiri, dibukak waduknya tenggelam kita,"

Kembali ke pakde.

Pakde menyebut banjir besar Solo tahun 1966 terjadi hingga ke daerah Bojonegoro dan mengakibatkan banyaknya korban jiwa.

“Sebelum kejadian banjir itu, lintang kemukus  ki ono terus saben esuk. Setiap orang melihat. Pertanda pageblug,” cerita pakde.

Lintang kemukus yang sempat terlihat itu menurutnya banyak diyakini masyarakat jaman dahulu akan terjadinya suatu bencana besar.

Dan setelah beberapa waktu usai terlihatnya lintang-lintang kemukus itu menurutnya banjir terjadi.

Baca Juga: Watu Cenik Wonogiri, Spot Selfie Balon Udara Yang Instagramable

“Sewaktu banjir banyak yang hanyut. Jembatan pada remuk. Seperti jembatan pakem yang menghubungkan Giriwoyo-Batu,” tuturnya.

Ia mengatakan padahal jembatan tersebut adalah jembatan jaman Belanda yang notabene jembatan kuat.

Kemudian jembatan Somoulun yang berdiri berdekatan dengan dengan jalur kereta api yang menghubungkan Batu hingga Solo.

Dahsyatnya banjir tahun 1966 itu  dalam ingatan pakde masih membekas. Menurutnya ketika itu atap-atap rumah banyak yang terbawa hingga ke jembatan Jurang Gempal, Pokoh..

“Aku nulungi wong pirang-pirang nang cedak Jurang Gempal. Mbah kakung bengok-bengok. Mbah buyutmu ki tukang golek iwak, tukang jolo. Ning simbahmu ki ra iso renang, untunge anake do iso. Pas kui, balungan omah do keli” kenangnya.

Ia mengatakan jembatan Jurang Gempal akibat banjir itu pada akhirnya juga ikut ambruk saat makin banyaknya muatan yang hanyut yang mendorong jembatan ke samping.

“Karena adanya banjir yang terjadi setiap tahun dibuatlah Waduk Gajah Mungkur ini. Yang merancang Ir Suminto yang merupakan Kepala Proyek Bengawan Solo saat itu,” tuturnya.

Menurut pakde, ketika itu,yang datang ke Wonogiri untuk pembicaraan awal terkait pembuatan waduk adalah Ir Suminto, Ir Sutami dan juga Drs. Sudarto.

Ir Suminto sendiri menurutnya sempat menjadi Kepala Proyek Waduk Riam Kanan yang ada di Kalimantan.

Adapun Ir Sutami adalah Menteri Pekerjaan Umum (PU) saat itu.

Setelah pembuatan Waduk Gajah Mungkur, menurut pakde, Ir Suminto yang ketika itu mengepalai Proyek Bengawan Solo kemudian melanjutkan pembangunan Waduk Kedung Ombo yang ada di Sragen.

“Di samping itu ada normalisasi sungai, termasuk membuat jembatan-jembatan. Sekarang kan di daerah Sukoharjo ada banyak jembatan. Itu untuk normalisasi sungai supaya jalan tidak berkelok-kelok sehingga tidak tergogos-gogos,” ujarnya.

Adapun pembicaraan awal mengenai pembangunan waduk mulai dilakukan pusat kepada daerah dimulai sekitar tahun 1973.

Kemudian menurutnya sekitar tahun 1974 survei dan hitung-hitungan ganti rugi mulai dilakukan.

Pembangunan waduk tahap awal menurut pakde dilakukan sekitar tahun 1975 dan di tahun itu orang-orang mulai ditransmigrasikan.

Transmigrasi Bedhol Desa sendiri menurutnya selesai pada tahun 1979.

Terkait proses transmigrasi, dilakukan secara bertahap menggunakan berbagai moda transportasi termasuk kereta dan kapal.

Bagian ini kapan-kapan lagi saya lanjutkan tulisannya yak.

Waduk Gajah Mungkur sendiri jika merujuk dokumen Harian Kompas, diresmikan oleh Presiden Suharto pada 17 November 1981.

Dari cerita pakde, pembuatan waduk berlangsung cepat menurutnya karena ketika itu dikerjakan oleh ribuan orang yang membuat DAM dan mendatangkan insinyur dari Jepang meskipun banyak juga insinyur-insinyur dalam negeri yang ikut dalam pengerjaan.

Pakde juga mengisahkan setelah masa 5 tahunan setelah pembangunan waduk, sempat dilakukan evaluasi terkait kondisi waduk.

Dan dari evaluasi tersebut ternyata diketahui adanya sedimentasi yang mana ketika itu usia waduk yang harusnya 100 tahun diperkirakan hanya akan berlangsung selama 25 tahun.

Dari evaluasi tersebut kemudian dilakukan sejumlah upaya untuk memperpanjang usia waduk seperti seharusnya.

Salah satunya upaya penghijauan dengan menggerakkan orang-orang di sekitar hulu sungai untuk penghijauan. Selain itu juga dilakukan pembangunan dam-dam kecil yang difungsikan untuk mengatur lumpur agar tidak terjadi sedimentasi.



*Tulisan di atas masih membutuhkan narasumber. literatur dan mungkin pandangan ahli lain. Jadi tulisan ini saya harap tidak dijadikan rujukan valid namun membuka wawasan baru agar Anda yang penasaran bisa menggali lebih dalam lagi. Kalau ada masukan atau teori lain bisa dituliskan di kolom komen

 

 

 

 

 

  • 0 Comments
Older Posts Home

Translate

Where we are now

o

About me

a


Fubuki Aida

Suka mengamati manusia, mendengar dan mencari cerita

~~Blogger Wonogiri-Solo~~


Kalau ada usulan tulisan bisa kontak saya di IG ya. Link bisa klik ikon IG di bawah

Find Me

  • youtube
  • instagram
  • facebook

Follow Facebook

Followers

Featured Post

Plinteng Semar, Legenda Taman Kota Wonogiri

Banner spot

Postingan Terbaru

Loading...

Labels

airy rooms astra bakso bengawan solo blora boyolali bubur buku cara pembaatalan tiket cerita Cernak cheriatravel Cirebon coretan coworking space solo featured gunungkidul hotel hotel alana hotel solo hotel wonogiri info jalan-jalan jawatengah jawatimur jepang jepara jogja kafe wonogiri KAI kampung inggris pare karanganyar karimunjawa karst kediri kereta klaten kolamrenang komputer kopi kudus kuliner kulinersolo kulinerwonogiri Lampung Liang Teh Cap Panda Liputan6 lomba lombok madiun magelang mesastila Pantai Pulau Merak Rembang Review safi saloka park Semarang solo sponsored stasiun story sukoharjo tawangmangu tempat ngopi solo tempat-meeting-solo traveling waduk pidekso watucenik wonogiri yogyakarta

Popular Posts

  • Solo Pluffy, Oleh-oleh Solo Bernafas Cinta Jessica Mila
    Solo itu manis.  Manis tutur aksara, perangai,  unggah-ungguh warganya dan tentu saja manis ‘wajah orang-orangnya ^^ Solo itu kota yang man...
  • Agrowisata Amanah, Tempat Outbound Asyik di Karanganyar
    Ini suatu perjalanan ketika suatu hari, kawan-kawan saya sepakat buat dolan Perjalanan kali ini bukan ke gunung, hutan, ataupun laut. Perja...
  • 3 Kolam Renang Khusus Perempuan di Solo
    Berenang merupakan salah satu olah raga yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Ketika berenang, seluruh tubuh kita bergerak, secara otomat...
  • 5 Hotel Di Wonogiri Yang bisa Jadi Alternatifmu Menginap Di Kota Gaplek
    Membicarakan wisata, traveling dan semacamnya, memang tak bisa dilepaskan dari yang namanya hotel, dan kuliner. Karena blog saya beberapa t...
  • Review Novel Daniel Mahendra, “Perjalanan ke Atap Dunia”
                Sebetulnya buku ini sudah niat saya ambil dari rak buku Perpustakaan Ganesha sejak dulu-dulu. Tapi lantaran lagi sok sibuk, ci...

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top