“Awas,
Pak!” Teriakku reflek. Seketika kudorong kuat-kuat bapak yang baru saja
meletakkan pinggulnya di atas tas Ragil. Bapak itu terjerembab ke depan, dan
seketika rasa bersalah menghinggapiku.
“Maaf,
Pak! Maaf! Ada kameranya di sini!” tudingku pada bagian yang baru saja diduduki
bapak itu. Bapak itu memandangku tajam. Mungkin batinnya dongkol, karena aku lebih memilih benda mati dibandingkan dirinya.
“Titip
ya, Mbak! Kameraku ada di sebelah sini,” pesan Ragil terngiang kembali. Ia
seolah tahu saja, hal semacam ini bakal terjadi.
Aku
mengerti si Bapak tadi tak sengaja. Ia baru saja memasuki bus lantas menaiki
tangga ketika si sopir mengerem karena bus melintasi jalan bergeronjal. Sebagai
akibatnya, tubuhnya terduduk tepat di atas carrier
Ragil yang tergeletak di bawah bangkuku, tepatnya di samping tangga naik bus.
Malang, ia harus kembali terjatuh, karena seseorang, ehem… saya maksudnya, mendorongnya kuat dari belakang. Fiuh… pasti si bapak kaget sekali.
Aku
baru saja terbangun lantaran bermimpi bus yang membawaku dari Solo ini menabrak
orang. Ternyata ketika terbangun suara rem yang kudengar dalam mimpi adalah rem
bus yang berkali-kali melewati jalan bergelombang. Entah harus bersyukur atau
bagaimana, yang pasti aku bersyukur karena aku terbangun tepat sesaat sebelum
si Bapak terjatuh. Perlu digaris bawahi, bersyukur terbangun tepat sesaat
sebelum si Bapak terjatuh, bukan bersyukur karena sukses berhasil mendorongnya.
Kalau tidak, kemungkinan terburuk adalah si Bapak pewe-pewe aja terduduk di atas carrier
Ragil yang isinya Nikon itu. Gawat kan, karena kamera Ragil merupakan 1
diantara 3 senjata kita selama ngetrip ini. Senjata narsis biar tetep eksis.
Beruntung
pria separuh baya itu tidak marah-marah, berteriak heboh, ataupun menangis
kesakitan . Ia cukup melihatku tajam lantas berjalan ke depan, mencari tempat
duduk. Alhamdulillah….
Lantaran
kejadian itu hilang rasa kantukku. Kuubah posisiku yang semula tidur miring
dengan menguasai separo bangku kosong di jok paling belakang, menjadi duduk
bersandar ke jendela. Kulihat ke samping, Erin masih dalam posisi tidurnya,
menguasai jok belakang separo dari yang kukuasai. Nanapun tertidur dengan
menguasai 3 bangku di depan kami. Aku terkekeh, Bus yang mulai sepi penumpang
ini membuat kami dengan leluasa tidur dengan posisi suka-suka. Yeahh.
Selang
beberapa bangku didepan Nana, Tomo, Ardi dan Ragil terlihat tak bergerak dengan
posisi duduk mereka. Nampaknya merekapun tertidur. Suasana bus terasa sepi.
Kulirik luar jendela, malam hitam kelam. Tak
sedikitpun ada tanda yang membuatku mengerti sampai dimana ini. Aku hanya
ingat, tadi sebelum aku tertidur cukup lama, bus kita sudah menyentuh tanah
Kediri.
Di luar
hanya terlihat deretan pohon, sesekali rumah, namun untuk beberapa lama
kemudian deretan pohon kembali hadir.
Sia-sia aku mencoba membaca petunjuk Jalan. Tak sedikitpun ada tulisan yang
nampak. Kolaborasi mata minus, gelap malam, dan sedikitnya bangunan berlabel,
memberitahuku untuk lebih baik tidur lagi saja. Biarkan bus berhenti ketika
nanti sudah waktunya berhenti. Karena toh, kita berhenti di pemberhentian
terakhir.
“Mbak,
bangun! Kita udah sampai!” sayup-sayup kudengar suara Tomo berusaha
membangunkanku.
Benar
saja, setelah aku kembali tidur tadi, pada akhirnya bus memang sampai juga di
pemberhentian terakhir. Sesekali kita memang perlu membiarkan hidup itu
mengalir untuk bisa menikmatinya. Tapi sesekali sajalah, karna seperti kata orang
bijak, “Hiduplah melawan arus, kamu akan bangga ketika kamu bisa melewatinya”
