Fubuki Aida Blog

  • Home
  • Cerita
  • _Kuliner
  • _Traveling
  • _Hotel
  • _Info
  • About
  • Disclaimer
                “Awas, Pak!” Teriakku reflek. Seketika kudorong kuat-kuat bapak yang baru saja meletakkan pinggulnya di atas tas Ragil. Bapak itu terjerembab ke depan, dan seketika rasa bersalah menghinggapiku.

                “Maaf, Pak! Maaf! Ada kameranya di sini!” tudingku pada bagian yang baru saja diduduki bapak itu. Bapak itu memandangku tajam. Mungkin batinnya dongkol, karena aku lebih memilih benda mati dibandingkan dirinya.

                “Titip ya, Mbak! Kameraku ada di sebelah sini,” pesan Ragil terngiang kembali. Ia seolah tahu saja, hal semacam ini bakal terjadi.

                Aku mengerti si Bapak tadi tak sengaja. Ia baru saja memasuki bus lantas menaiki tangga ketika si sopir mengerem karena bus melintasi jalan bergeronjal. Sebagai akibatnya, tubuhnya terduduk tepat di atas carrier Ragil yang tergeletak di bawah bangkuku, tepatnya di samping tangga naik bus. Malang, ia harus kembali terjatuh, karena seseorang, ehem… saya maksudnya, mendorongnya kuat dari belakang. Fiuh… pasti si bapak kaget sekali.

                Aku baru saja terbangun lantaran bermimpi bus yang membawaku dari Solo ini menabrak orang. Ternyata ketika terbangun suara rem yang kudengar dalam mimpi adalah rem bus yang berkali-kali melewati jalan bergelombang. Entah harus bersyukur atau bagaimana, yang pasti aku bersyukur karena aku terbangun tepat sesaat sebelum si Bapak terjatuh. Perlu digaris bawahi, bersyukur terbangun tepat sesaat sebelum si Bapak terjatuh, bukan bersyukur karena sukses berhasil mendorongnya. Kalau tidak, kemungkinan terburuk adalah si Bapak pewe-pewe aja terduduk di atas carrier Ragil yang isinya Nikon itu. Gawat kan, karena kamera Ragil merupakan 1 diantara 3 senjata kita selama ngetrip ini. Senjata narsis biar tetep eksis.

                Beruntung pria separuh baya itu tidak marah-marah, berteriak heboh, ataupun menangis kesakitan . Ia cukup melihatku tajam lantas berjalan ke depan, mencari tempat duduk. Alhamdulillah….

                Lantaran kejadian itu hilang rasa kantukku. Kuubah posisiku yang semula tidur miring dengan menguasai separo bangku kosong di jok paling belakang, menjadi duduk bersandar ke jendela. Kulihat ke samping, Erin masih dalam posisi tidurnya, menguasai jok belakang separo dari yang kukuasai. Nanapun tertidur dengan menguasai 3 bangku di depan kami. Aku terkekeh, Bus yang mulai sepi penumpang ini membuat kami dengan leluasa tidur dengan posisi suka-suka. Yeahh.
   
                Selang beberapa bangku didepan Nana, Tomo, Ardi dan Ragil terlihat tak bergerak dengan posisi duduk mereka. Nampaknya merekapun tertidur. Suasana bus terasa sepi. Kulirik luar jendela, malam hitam kelam. Tak sedikitpun ada tanda yang membuatku mengerti sampai dimana ini. Aku hanya ingat, tadi sebelum aku tertidur cukup lama, bus kita sudah menyentuh tanah Kediri.

                Di luar hanya terlihat deretan pohon, sesekali rumah, namun untuk beberapa lama kemudian deretan pohon  kembali hadir. Sia-sia aku mencoba membaca petunjuk Jalan. Tak sedikitpun ada tulisan yang nampak. Kolaborasi mata minus, gelap malam, dan sedikitnya bangunan berlabel, memberitahuku untuk lebih baik tidur lagi saja. Biarkan bus berhenti ketika nanti sudah waktunya berhenti. Karena toh, kita berhenti di pemberhentian terakhir.

                “Mbak, bangun! Kita udah sampai!” sayup-sayup kudengar suara Tomo berusaha membangunkanku.

                Benar saja, setelah aku kembali tidur tadi, pada akhirnya bus memang sampai juga di pemberhentian terakhir. Sesekali kita memang perlu membiarkan hidup itu mengalir untuk bisa menikmatinya. Tapi sesekali sajalah, karna seperti kata orang bijak, “Hiduplah melawan arus, kamu akan bangga ketika kamu bisa melewatinya”

  • 1 Comments
Older Posts Home

Translate

Where we are now

o

About me

a


Fubuki Aida

Suka mengamati manusia, mendengar dan mencari cerita

~~Blogger Wonogiri-Solo~~


Kalau ada usulan tulisan bisa kontak saya di IG ya. Link bisa klik ikon IG di bawah

Find Me

  • youtube
  • instagram
  • facebook

Follow Facebook

Followers

Featured Post

Plinteng Semar, Legenda Taman Kota Wonogiri

Banner spot

Postingan Terbaru

Loading...

Labels

airy rooms astra bakso bengawan solo blora boyolali bubur buku cara pembaatalan tiket cerita Cernak cheriatravel Cirebon coretan coworking space solo featured gunungkidul hotel hotel alana hotel solo hotel wonogiri info jalan-jalan jawatengah jawatimur jepang jepara jogja kafe wonogiri KAI kampung inggris pare karanganyar karimunjawa karst kediri kereta klaten kolamrenang komputer kopi kudus kuliner kulinersolo kulinerwonogiri Lampung Liang Teh Cap Panda Liputan6 lomba lombok madiun magelang mesastila Pantai Pulau Merak Rembang Review safi saloka park Semarang solo sponsored stasiun story sukoharjo tawangmangu tempat ngopi solo tempat-meeting-solo traveling waduk pidekso watucenik wonogiri yogyakarta

Popular Posts

  • Solo Pluffy, Oleh-oleh Solo Bernafas Cinta Jessica Mila
    Solo itu manis.  Manis tutur aksara, perangai,  unggah-ungguh warganya dan tentu saja manis ‘wajah orang-orangnya ^^ Solo itu kota yang man...
  • Agrowisata Amanah, Tempat Outbound Asyik di Karanganyar
    Ini suatu perjalanan ketika suatu hari, kawan-kawan saya sepakat buat dolan Perjalanan kali ini bukan ke gunung, hutan, ataupun laut. Perja...
  • 3 Kolam Renang Khusus Perempuan di Solo
    Berenang merupakan salah satu olah raga yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Ketika berenang, seluruh tubuh kita bergerak, secara otomat...
  • 5 Hotel Di Wonogiri Yang bisa Jadi Alternatifmu Menginap Di Kota Gaplek
    Membicarakan wisata, traveling dan semacamnya, memang tak bisa dilepaskan dari yang namanya hotel, dan kuliner. Karena blog saya beberapa t...
  • Review Novel Daniel Mahendra, “Perjalanan ke Atap Dunia”
                Sebetulnya buku ini sudah niat saya ambil dari rak buku Perpustakaan Ganesha sejak dulu-dulu. Tapi lantaran lagi sok sibuk, ci...

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top