Sejenak Ndeso di Safira Hotel Magelang

Sebelumnya saya sudah bercerita tentang mendaki tidar di acara festival tidar kemarin. Nah, pada rangkaian  acara festival tidar ini, kami menginap di Safira Hotel. Salah satu hotel  di kota Magelang yang lokasinya tak jauh dari Akmil Magelang.  Keberadaannya cukup strategis. Dari hotel ini kami tak butuh waktu lama untuk mencapai  tempat-tempat penting di kota Magelang. Lokasinya memang berada di pusat kota. Sehingga mau kemana-mana dekat.




Begitu tiba di parkiran, saya dan Mas Aji bergegas menuju lantai 1. Melakukan registrasi, sekaligus guna mendapatkan kunci kamar Hotel Safira. Panitia, duta wisata, dan beberapa perwakilan dari Dinpar Magelang, segera menyambut kami dengan ramahnya. Begitu sepotong kartu bertuliskan nomor kamar kami dapatkan, kami langsung menuju kamar masing-masing.

Safira Hotel dari luar memiliki warna dominan putih. Dengan batasan lantai yang dari luar nampak berhias lekukan ornamen bercorak bunga. Terlihat klasik.

Saya sempat heran saat mencari kamar saya dan mendapati nomor kamar di samping nomor 308 bukanlah 309. Nomor kamar saya.

Hilangkah kamar saya? Atau jangan-jangan panitia salah memberi nomor kamar. Akibatnya saya diberi nomor kamar yang memang dihilangkan karna mungkin alasan-alasan mistis? Karna katanya beberapa hotel memang melakukan hal itu.  Membayangkan seperti itu mendadak saya mrinding.



Saya lantas mengurutkan nomor kamar lagi dari mulai 308 ke bawah. Baru setelahnya saya ngeh kalau penyusunan kamar hotel Safira ini ternyata berdasarkan nomor ganjil dan genap. Fiuhh, untunglah kamar saya nggak ilang.  Hehe.

Menemukan kamar, bukan berarti saya langsung bisa masuk. Saya berkali-kali ngoglek-oglek (memutar-mutar)  gagang pintu kamar, mengira bahwa pintu kamar harusnya langsung bisa kebuka. Tapi pintu tetap saja anteng. Nggak ada tanda sedikitpun bahwa ia bisa dibuka. 

Ealah, ini kamar nggak mau apa saya tempatin?” batin saya miris. Lantas ngoglek-oglek lagi

“Jangan-jangan dikunci?  Tapi kok tadi, saya nggak dikasih  kunci? Lupa kali ya?” Saya mulai garuk-garuk kepala

Sempat berpikir untuk turun dan meminta kunci ke Mas Andi selaku panitia. Tapi untunglah itu tak saya lakukan. Sempat pula mau nelfon Mas Aji yang kamarnya entah dimana, tapi baterai untungnya  lagi low, hingga saya bersyukur tidak melakukan itu.

Kalau saya lakukan pasti bakalan ngisin-isini  banget. fiuhh.

Saya mengamat-amati sekitar gagang pintu. Nggak ada tanda-tanda adanya lubang kunci. #MikirSejenak.

Disitu kemudian saya baru ngeh kalau pintu kamar Hotel Safira ini elektrik. Wealah. "Hotelnya beda sama hotel yang pernah kamu inepin Aida!. Ini lebih gaul!" saya merasa oon. Yeah maklumlah, jarang-jarang nginep ke hotel.

Kesadaran ini tidak langsung membuat saya bisa masuk ke kamar hotel Safira. Pasalnya saya masih harus nyari-nyari lokasi sensor pintu berada.

Saya inget beberapa adegan film yang pernah saya tonton. Saya memandang lagi ke kartu yang diberikan panitia tadi. 

Hoalah, ternyata kartu itu ada fungsinya, tho. Saya kira hanya berfungsi sebagai penanda nomor kamar.  Wkwkwk.

Saya coba tempel-tempelkan ke beberapa bagian pintu yang kira-kira merupakan sensor. Ke pintunya, ke gagangnya, ke lingkaran di dekat gagangnya. Pokoknya butuh waktu buat saya akhirnya menemukan letak sensor yang tepat.

Suara pintu dan nyala lampu pintu saat terbuka sontak membuat saya girang sekaligus geli dan terkikik-kikik sendiri dengan segala kendesoan ini. Huhu. Untunglah, adegan ndeso tak sampai pada saya tak bisa menyalakan lampu. Soalnya kalau lampu saya pernah mengalami kendesoan pula. Tapi sudah di jaman dulu di tempat yang lain. Hehe.

Begitu kamar terbuka, yang langsung saya inget adalah pengen secepatnya ngomong makasih ke Pak danang, punggawa blogger Solo yang sudah meworo-worokan mengenai undangan Dinpar ini. Berkat dia hari itu saya akhirnya bisa jalan-jalan.

Bobok di Safira Hotel


2 bed yang masih rapi dan nampak putih bersih dihadapan saya, sejatinya menggoda sekali untuk secepatnya saya pakai melanglang buana ke dunia mimpi. Tapi begitu melihat jam, saya buru-buru ingat. Masih banyak run down acara yang nanti harus saya lakukan.

Karena sadar tidur saat itu bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan, akhirnya saya menyibukkan diri dengan mulai coba-coba mengulik fasilitas kamar Safira Hotel.

Mulai menyalakan AC, menyalakan tivi yang menayangkan 24 chanel baik lokal maupun internasional, juga mulai melihat-lihat ke tiap sudut lemari dan meja.  Di mejanya, terdapat coffe/tea maker yang rupanya memang tersedia bagi seluruh kamar segala tipe.

Melongok ke alamari, terlihat di bawah tempat menggantung baju, sebuah brankas penyimpanan uang tergolek di sana. Sayang, isi dompet saya kok kayaknya nggak yo’I banget kalau saya masukkan ke situ. Di dompet aja kelonggaren. Huhu, padahal saya pengen nyobain nyimpen uang di brangkas, terus nanti pencet-pencet kode rahasia gitu. Hehe. #kumatndesonya.

Lanjut liat-liat kamar mandi. Kamar mandinya bersih, handuk, dan segala preparat mandi masih rapi. Kran air dingin dan panas pun masih berfungsi dengan baik. Kawan sekamar saya belum datang jadi segalanya masih terlihat belum terpakai.

Untuk view kamar, saya cukup beruntung. Kamar saya menghadap ke luar. ke arah rumah penduduk juga kuburan Giri Loyo meskipun yang terlihat bukan kuburannya, tapi pohon-pohon di sekitarnya. Yeah lumayan asik lah hotel bintang 3 yang saya tempatin ini.

Diujung selasar menuju kamar kami,  sebuah pemandangan apik gunung Sumbing terlihat dari kaca yang di pasang cukup besar di jendela.  Tiap kali keluar kamar,  saya pasti menyempatkan diri melihat view Sumbing yang dikelilingi banyak awan. Syahdu.

Meskipun belum memiliki kolam renang, tapi hotel ini memiliki sky lounge yang cukup kece. Ini salah satu foto yang berhasil didapat mas Sitam salah satu peserta kemarin.  Foto ini saya ambil dari IG nya



Di acara nginep di Hotel Safira ini, salah satu hal yang tak saya duga adalah teman sekamar saya adalah Mbak Dewi Rieka. Penulisnya Anak Kos Dodol, yang ketika SMA dulu jadi salah satu penulis favorit saya. Hihi, i can't belive it

Hotel Safira

You Might Also Like

12 comments

  1. Tetep foto paling bawah itu orangnya rajin, nggak nakal, dan kalem kakakakaak.

    Aku malah satu kamar sama Mas Halim *urah mirip asudara kembar pakaiannya, hanya beda warna kulit aja kakakakak

    ReplyDelete
  2. keren banget mbak hotelnya, backgroundnya pemandangan indah :)

    ReplyDelete
  3. Wkwk dikaw ngga cerita ada insiden cari lubang kunciii hihihi

    ReplyDelete
  4. coba kemarin ada sesi pijat refleksi gratis di rooftoop untuk peserta,
    pasti enak, leyah leyeh sembari nonton Merbabu dan Sumbing...
    whawhahw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu ide bagus. Coba kemarin sampean usul ya :D

      Delete
  5. Pernah nginep tapi sama cowok hiks.... #gagalmacho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok nasibmu sama kayak aku mas...huaaahuaaa

      Delete
    2. wkwkwk. hla nek karo cewek ngko lak yo geger to. haha

      Delete

Semoga yang tersaji, bisa bermakna.

Kalau kamu suka dengan artikel ini, jangan lupa share & like fanspage gubug kecil sang entung di facebook

Terima Kasih :)