Fubuki Aida Blog

  • Home
  • Cerita
  • _Kuliner
  • _Traveling
  • _Hotel
  • _Info
  • About
  • Disclaimer
Saya baru saja berpamitan hendak pulang sebelum saya memberitahu pakde bahwa beberapa waktu sebelumnya saya baru saja berkunjung ke Wayang Village, Kampung Wayang Kepuhsari yang ada di Manyaran Wonogiri.

Siapa sangka, pemberitahuan singkat tersebut justru membuat saya kembali duduk, dan berbincang lagi dengan pakde dalam perbincangan yang pada akhirnya mengulur kepulangan saya nyaris satu jam kemudian.

wayang village
docpri

“Tanah Jawa iku jaman bien Jalma mara, Jalma mati, [1]” ujar pakde sembari menyilakan kakinya.

  • 6 Comments
Travel - Usai dari Pulau Merak kami sempat bingung mau travelling Bakauheni atau tidak. Berhubung ke Pulau Merak cukup irit, kami akhirnya memutuskan untuk lanjut saja nyebrang ke Bakauheni 

Informasi mengenai kami bisa menyebrang ke Bakauheni ini kami dapat dari itenary tambahan Antin. Dia sempat tanya mau nyebrang ke Bakauheni sekalian atau tidak. Saya iyakan aja kalau memang deket.

Kesalahan kami adalah membiarkan kebiasaan kami tidak browsing terlalu banyak saat akan pergi ke suatu tempat. Biar ada kejutannya gitu maksudnya. Biasanya selain mencari info kendaraan dan biaya perjalanan, plus sekilas wujud objek yang akan saya kunjungi di pencarian gambar, saya tidak mencari detil info lain-lain.

Dan karena merasa itenary Antin sudah cukup jelas, plus semula Antin berencana ikut meskipun akhirnya nggak jadi, saya makin malas browsing dan malah santai-santai saja. Saya hanya sekedar mencari tau tentang Pulau Merak, sedangkan Bakauheni sendiri saya abaikan. Sama sekali saya tidak mencari tahu Bakauheni itu apa

Salah Paham Di Bakauheni

Hal paling parah yang terjadi adalah bisa-bisanya kami bertiga tidak tau kalau ternyata Bakauheni adalah Lampung. Alamak, digeguyu pitik kalau kata budhe saya. Ngisin-isini.

Jadi sepanjang perjalanan, pikiran kami Bakauheni itu adalah Pulau. Pulau kecil antara Jawa dan Sumatra. Pulau kecil macem Pulau Merak. Pulau kecil yang bisa sebentar saja kami singgahi, serta pulau yang saya pikir masih masuk wilayah Pulau Jawa.

Pembicaraan dengan orang-orang yang kami temui pun menjadi aneh. Yang sebetulnya sudah saya rasakan sejak bertanya kepada petugas loket.

“Mbak, nanti kalau di Bakauheni, beli tiket kapal dari Bakauheni ke Lampung berapa ya?” tanya saya iseng usai membayar tiket kapal Pelabuhan Merak-Bakauheni. Petugas loket itu diam berpikir, seperti mencerna pertanyaan saya. Dari ekspresi diam sesaatnya ini saya sudah merasa aneh. Namun saya abaikan saat ia kemudian menjawab

“Ya sama Rp. 15.000,”

Huhuy, mungkin si Mbak loket ngira pertanyaan yang saya maksud adalah ongkos nyebrang balik Bakauheni-Merak.Gegara jawaban si Mbak loket tadi, kami merasa santai-santai saja saat rupanya memasuki kapal berati kami sedang bersiap OTW menuju Lampung.

duta lampung


Kapal Duta Banten sudah berdiri di ujung jalan layang pelabuhan Merak. Memasukinya, kami sempat terpukau, kapal Feri satu ini begitu resik. Fasilitas di kapal inipun lumayan komplit, mulai dari restaurant, ruang tunggu di dalam kapal yang berupa kursi-kursi kayu berjajar yang bersih tertata, mushola, ruang tunggu AC, pokoknya ini kapal feri menyenangkan utamanya karena kebersihannya

Kapal Feri yang akan membawa kami ke Bakauheni ini juga memanjakan kami yang gila memandang laut. Tepian kapal yang resik, dan kebetulan sepi menjadi sasaran kami menikmati senja dari atas kapal.
Apalah hamba, hanya makhluk kecil terombang-ambing di tengah arus lautan saja nggliyeng. Jangankan menjangkau pemikiranMu. Menjangkau gambar kapal saja harus pakai bantuan zoom kamera. . Suatu kali, saat senja menuju Lampung . #kapalbakauheni #lampung #sumatra #bakauheni #travelentung
A post shared by fubuki aida (@fubuki_aida) on Feb 15, 2018 at 6:19am PST



Kami mulai panik saat hari kian petang tapi kapal tak kunjung sampai. Karena masih mengira menuju Pulau kecil, jadi kami kira perjalanan bakal hanya sekitar setengah sampai satu jam. Kereta terakhir balik ke Rangkas padahal kurang dari pukul 20.00, sementara sampai menjelang Isya pun kapal kami tak kunjung mendarat di Bakauheni.

“Buk, Bakauheni itu ada penduduknya Buk?” tanya saya kepada seorang Ibu-ibu usai kami selesai sholat maghrib.

Ibu-ibu di depan kami mengernyit aneh, tapi kemudian tetap memberikan jawaban. “Ya ada mbak. Ada penduduknya. Ada rumah di sana, ada toko, ada pasar,” ujarnya.

Saya ngakak kalau ingat ini. Ealah Da, Da. hla wong Bakauheni itu bukan nama Pulau tapi nama kecamatan ya jelas saja ada penghuninya to ya!!

Kami megangguk-angguk saja saat itu. Dalam hati membatin, syukurlah, itu berarti aman kalaupun kami kemalaman.

Menginap Di Pelabuhan Bakauheni

Ruang Tunggu Bakauheni

“Kita mau nginep?” pertanyaan Erin ini menjadi pembahasan kami selanjutnya. Kepalang tanggung kalau harus nekat balik malam-malam nanti.

“Inget Woy, anggaran kita nggak masuk buat sewa penginapan,” saya mengingatkan. Kami bertiga lantas terbahak-bahak. Menertawakan kondisi kami yang payah. Kemaleman di atas kapal menuju tempat antah berantah tanpa persiapan, dan parahnya dengan dana yang mepet. Bahkan kami tak membawa charger sementara kondisi baterai HP kami bertiga nyaris kerontang.

“Buk, kalau menginap di pelabuhan Bakauheni itu, bisa ya Buk?” tanya saya mencoba mencari alternatif.

“Bisa, Mbak. Menginap saja di pelabuhan Bakauheni. Ada ruang tunggunya,” ujar si Ibu membuat kami lega.

Sekitar 2,5 jam perjalanan, kapal akhirnya berlabuh di Bakauheni. Ketika keluar kapal dan menyusuri jalan layang pelabuhan, kami berjalan bersisian dengan seorang pemuda yang mengaku akan pulang ke Lampung Timur.

“Mas, kalau mau ke Lampung, dari Bakauheni naik kapal berapa lama?" tanya kami iseng sekedar pengen tahu.

“Kapal apa? Nggak ada kapal buat ke Lampung. Adanya bus. Mau ke Lampung mana?” tanyanya. Saya, Nana dan Erin saling pandang. Bingung.

"Kita cuma mau jalan-jalan saja sih, Mas. Besuk paling pulang lagi naik kapal."

Mas-mas yang lumayan ganteng itu ber O ria kemudian pamit berlalu. Jawaban mas-mas tadi membuat kami berpikir keras. Kenapa jawabannya berbeda dengan jawaban petugas loket?

"Kayaknya kita salah, deh," Nana memelankan laju jalannya.

"Salah gimana?"

"Bakauheni itu bukannya memang pelabuhan di Lampung ya?" Nana mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Heee??Masak?"

"Ahhh iya, aku inget ibuku pernah cerita ke Lampung turun di Bakauheni terus dijemput temennya," Nana berkata heboh. "Kita udah di Lampung," ujarnya yakin.

Saya dan Erin berjalan sambil bengong dengan keyakinan Nana. Tapi tak butuh waktu lama untuk kami bertiga buat ngakak bareng di tengah keterkejutan dan kepanikan baru yang timbul akibat kami mengetahui bahwa kami sudah berada di luar Pulau Jawa.

Tiba-tiba kejanggalan sepanjang perjalanan pun terjawab. Mbak-mbak loket diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan, ibu-ibu yang mengernyit aneh. Lalu mas-mas yang bilang nggak ada kapal buat ke Lampung. Semua jadi jelas. Ke Lampung dari Bakauheni tentu saja menjangkaunya menggunakan bus dan bukannya kapal, hla wong Bakauheni dan wilayah Lampung yang lain itu satu daratan. Ngapain pula pakai kapal?

Dan yang harusnya saya sadari dari awal, jika memang Bakauheni hanyalah Pulau Kecil, Ngapain juga pakai Kapal feri? Ohh, hari itu saya benar-benar merasa oon.

Lampung, Saya Di Sini

Ruang tunggu Bakauheni adalah bagian bangunan yang terintegrasi antara pelabuhan dan terminal Bakauheni. Tempatnya luas, bersih, dan berkesan modern. Saat kami memasukinya, baru terlihat beberapa orang saja yang menggelar karpet di sana. Daripada menggelar karpet baru lagi, kami memilih bergabung saja dengan 2 orang perempuan yang sudah lebih dulu menggelar karpet.

"Kalau di Bakauheni, hati-hati, Mbak. Di sini rawan. Banyak calo, dan copet di sini," usai meletakkan barang-barang dan mencari posisi enak buat duduk kami mulai mengobrol dengan perempuan di samping saya.

"Ini kalau keluar dari sini, bakalan banyak calo yang yang nyamperin," tambahnya lagi membuat saya menelan ludah. Bayangan saya berlari ke pengalaman dikerubuti calo kala di Pulau Gadung beberapa tahun silam.

"Orang-orang di sini kan ya beda Mbak sama orang-orang di Jawa. Jadi ya lebih rawan kalau di banding dengan Calo Pulau Gadung. Saya saja yang Orang Lampung malas di sini kalau nggak karna terpaksa," lanjutnya lagi makin membuat saya ngeri.

"Iya Mbak hati-hati. Orang-orang pinter aja sering ketipu saat disini," di samping Mbak-mbak tadi, seorang Ibu-ibu ikut menyambung. Saya dan Erin maki ngeri.

Memberitahu orang rumah dan beberapa teman kalau kami sedang di Bakauheni, rupanya malah memperparah kengerian kami. Semua Whatsap yang masuk berujar bahwa Bakauheni rawan. Puncaknya, kami dimarahi orang rumah karena semua ketololan itu.

Saya jadi bertanya-tanya sebegitu terkenalkah Bakauheni dengan calonya? Dan parahnya, kami bahkan baru tahu apa itu Bakauheni. Duhh. Browsing tentang Bakauheni diantara baterai yang tersisa juga makin menambah rasa horor di benak.

Tak hanya terkenal sebagai tempat copet dan calo, bahkan Bakauheni sering dilakukan razia penyelundupan shabu-shabu. Dan saat itu saya juga baru tahu Bahwa Lampung bahkan terkenal dengan sebutan Tanah Begal.

Rasanya kami tadi tidak takut apa-apa kalau saja tidak diberitahu semua itu. Rasanya kami tadi masih bisa santai-santai menyadari berada di Lampung secara tak terduga. Ahh, andai kami tadi tidak tahu apa-apa. Malam itu pastilah saya bisa tidur nyenyak.

Berbekal charger pinjaman saya berjalan agak jauh ke dekat kamar mandi mencoba mencharger HP. Saat itulah seorang bapak-bapak yang ngakunya petugas kamar mandi mendekat memperingatkan saya untuk berhati-hati dengan Ibu-ibu yang tidur satu karpet dengan kita yang tadi ikut ngobrol. Saya menurut saja, karena pada dasarnya sejak awal saya sudah curiga sejak ia cerita kalau dia merupakan korban letusan gunung Merapi yang kemudian tinggal dengan saudaranya di Lampung. Saya makin curiga ketika dia tiba-tiba nyambung dan berujar 'orang pinter saja mudah dibohongi' dan makin merasa aneh dengan sosoknya ketika tiba-tiba bertanya kepada saya 'Mbak pernah naik pesawat?' saya hanya ngakak saat dia bertanya.

Si bapak penjaga kamar mandi itu menjelaskan kalau si Ibu sering menipu dengan modus pura-pura nggak punya uang untuk pulang. Namun saya lega ketika ia berujar kalau si Ibu nggak pernah nyopet. Yahh, setidaknya berhati-hati pada penipu dalam kondisi seperti ini lebih mudah daripada berhati-hati dari copet. Ya iyalah, kalau ditipu meminta uang sekian ratus ribu ya mana bisa? Duit kita aja seratus ribu kagak genep :-D Tapi kalau sampai dicopet: dompet, kamera, HP itu kan benda berharga kita hari itu. Bisa gawat kalau sampai ilang semua.

"Security hanya berjaga sampai pukul 12 saja, Mbak. Nanti kalau mau tidur di tengah aja Mbak. Pas dimana kamera CCTV bisa memantau," giliran kami mengobrol dengan security yang menjaga Pelabuan Bakauheni.

"Mbak, kalau memang besuk mau keliling sekitar Lampung sini bisa hubungi Mas ini, dia Ojek resmi di Bakauheni. Selama masih di dalam ruang tunggu, lebih aman Mbak. Kalau sudah di luar memang sedikit berbahaya apalagi kalian perempuan semua. Besuk biar dia yang sekalian ngejauhin kalian dari calo. Besuk kalau memang jadi, biar dia hubungi juga tukang ojek resmi yang lain," ujarnya.

"Simpan nomor saya saja, Mbak. dipikirkan dulu besuk mau kemana, mau balik atau mau keliling sekitar sini? Kalau jadi mau keliling bisa hubungi saya," si Tukang Ojek lantas menyebutkan nomornya.

Kami merasa beruntung bertemu dengan security Pelabuhan Bakauheni yang banyak memberikan kami saran sebagai seseorang yang baru pertama kalinya tiba di sana. Dia juga mengenalkan kami kepada tukang ojek resmi yang juga baik.

Malam itu, saya belum sepenuhnya tenang meskipun mendengar nasihat Pak Security dan tukang ojek yang terlihat baik. Yang kedua, kami juga masih bingung besuk mau gimana. Pasalnya si Tukang Ojek menawarkan keliling pantai sekitar Bakauheni dan ke Menara Siger dengan tarif Rp 70.000 per orang. Besok kami tidak mungkin menyetujuinya. Mepet broo, nggak cukup uang kita.

Tiap beberapa waktu kapal mengaum. Suaranya menggelegar masuk sampai di dalam ruang tunggu pelabuhan. Tiap auman itu selesai menyala, orang-orang riuh menuruni tangga. Beberapa terus melanjutkan berjalan keluar, namun beberapa tertinggal di ruang Tunggu. Maka tak heran, kala malam kian larut, Ruang tunggu Pelabuhan Bakauheni semakin banyak orang yang terbujur. Tidur melepas lelah di atas bentangan karpet biru.

Diantara kami bertiga, hanya Nana yang bisa tidur dengan tenang setenang-tenangnya. Bahkan rencana kita untuk tidur bergantian hanya tinggal uapnya doang. Pada akhirnya hanya saya dan Erin yang gantian. Itupun waktu saya mencari posisi tidur, saya tidak benar-benar bisa tidur. Sementara Nana, bocah itu tubuhnya digoyang-goyangkan berapa kalipun hanya bergeming.

Lepas tengah malam, mbak-mbak yang tidur di samping saya bangun. Dan diantara keheningan malam pelabuhan Bakauheni perempuan muda itu berbagi kisah tentang dirinya yang pernah menjadi TKI sejak lulus SD.
“Emang boleh, mbak?”
“Badan saya kan bongsor. Nggak ketahuan nuain umur,” ujarnya. Benar juga, tubuh perempuan itu memang lumayan gemuk.
“Saya dulu jadi TKI mbak, 3 tahun di Arab, 2,5 tahun di Dubai,” ujarnya lagi. Sementara saya geleng-geleng, mengingat kembali saat lulus SD saya tak lebih dari anak-anak yang masih cupu. Saya benar-benar tak bisa membayangkan diri saya sendiri lulus SD lalu jadi TKI ilegal. Pasti tiap hari nangis terus kerjaan saya.
“Sebenernya orang tua nglarang, tapi saya mau sendiri,” jelasnya lagi. Perempuan itu tak lebih tua dari saya, tapi pengalamannya jauh sekali di atas saya.
“Memang gaji TKI berapa, mbak?” tanya saya penasaran.
“Di Arab dikit, Mbak. Waktu itu 2,5-3 jutaan. Tapi kalau Dubai 3-5 jutaan,”
“Masak Cuma segitu, Mbak. Saya kira gaji TKI bisa sampai puluhan juta,”
“Itu kalau lama nggak pulang terus uangnya dikumpulin, Mbak!” Ia terkekeh.
Saya garuk-garuk jilbab, ikutan terkekeh.

Bakauheni, pada akhirnya berakumulasi menjadi jauh lebih ramah usai mbak-mbak ini berbagi cerita. Tiba-tiba ke khawatiran saya tentang Bakauheni terasa tak ada apa-apanya dibandingkan membayangkan si Mbaknya berada di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga saat baru saja lulus kelas 6 SD. Aihhh…
“Waktu pertama kali di Arab, mbak nggak takut?”
“Majikan saya saat di Dubai maupun di Arab baik semua. Yakin saya Orang itu, kalau dia baik, dimanapun selalu dipertemukan dengan orang baik.”
Clesss. Ucapannya langsung menenangkan saya.
Menjelang pagi, hingga benar-benar pagi saya terus menenangkan diri dengan mengingat kalimat itu tiap kali ketakutan terbersit.

Benar juga, Alhamdulillah, kami benar-benar bertemu orang baik di Bakauheni mulai dari Mbaknya, security, hingga tukang ojek resmi yang melindugi kami dari rayuan para calo yang berusaha mendekat.

Yap, esok paginya saat kami hendak solat Subuh dan keluar dari ruang tunggu, segerombolan entah calo, entah tukang ojek mengerubungi kami dan terus mengikuti hingga mushola. Saat kami selesai solat, mas tukang ojek datang menyapa dan ia terus menjauhkan kami dari para calo dengan cara menjawabi pertanyan teman-temannya. Padahal kami tidak jadi menggunakan jasanya. Bahkan kami diberi banyak tips supaya nanti saat berjalan menuju Menara Siger kami tidak terus menerus disamperin orang.

“Nanti pasti banyak yang menghampiri kalian. Bilang saja mau ke desa Kenyanyan. Jangan bilang mau ke Siger,” ujarnya. Saya mencoba mengingat baik-baik pesan ini.

“Kalau ada yang tanya, dijawab saja. Jangan diam. Orang itu kalau bertanya terus nggak dijawab, pasti sebal,” pesannya lagi. Saya mengangguk angguk.

Jalan Menuju Siger

Tepat seperti yang diperkirakan Mas Ojek, kami benar-benar dihampiri orang saat berjalan menuju Menara Siger. Dan kami menggunakan tips yang disarankan oleh Mas Ojek. Alhamdulillah, akhirnya kami benar-benar sampai di Menara Siger pada akhirnya. Dan kami makin seneng ketika tahu bahwa Menara Siger merupakan titik 0 km nya Lampung. Ibukk, aku tekan Lampung

Saat kami menginjakkan kaki di Siger, sebuah tempat Wisata yang dekat dengan pelabuhan Bakauheni, kami benar-benar bersyukur karena Ia yang di atas sana memberi kejutan Lampung dengan cara yang tidak biasa. Meskipun kami bisa disebut bodoh, karena tidak lebih dulu mencari tahu tentang tempat yang kita tuju. Yang pasti saya percaya, semua yang terjadi adalah kehendakNya. Termasuk ketidaksengajaan ini.


Kita bertiga

  • 17 Comments
Solo itu manis. 
Manis tutur aksara, perangai,  unggah-ungguh warganya dan tentu saja manis ‘wajah orang-orangnya ^^

Solo itu kota yang manis.
Ya, buat saya Solo itu demikian. Mungkin saking lamanya saya mengurban di kota ini, hingga rasanya tak terhitung sudah berapa banyak kenangan manis yang saya dapat. Mungkin kalau diumpamakan, kenangan manisnya jauh lebih besar dari luas wilayahnya. 

***
Beberapa hari menjelang Hari Raya Lebaran, tepatnya 16 Juni besuk, ranah kuliner Solo bakal diguncang kehadiran oleh-oleh baru yang merupakan bisnis salah satu artis manis Indonesia, Jessica Mila. Hadir dengan nama Solo Pluffy, kue Jessica Mila ini mulai besuk sudah bisa dijadikan cangkingan oleh-oleh kalau berkunjung ke Solo dan sekitarnya.

  • 16 Comments
Tak cukup menyebrang Kali Bengawan Solo lantas segalanya usai. Perjalanan kami masih harus berlanjut lagi. Lepas dari Bengawan, sepeda dituntun melewati jalur tanah yang becek dan lembek. Pohon-pohon bambu memayungi kami, memberi teduh lepas dari suasana perkotaan yang sedikit gaduh.

Mengunjungi Gadingan, Desa Penghasil Karak Sukoharjo


  • 9 Comments
Area Gladag dari Gapura Galadag sampai Gapura Kori Pamurakan terlihat sepi. Hanya beberapa petugas Dishub yang tampak berkeliaran. Pagi ini, kawasan Gladag memang disterilkan dari kendaraan.  Sebagai akibatnya, saya pun musti memarkir motor di area tourism center lantas selanjutnya harus rela berjalan kaki menuju Pasar Klewer.

klewer

Pagi ini, saya sengaja datang ke Klewer. Khusus ingin menjadi saksi sejarah diresmikannya Pasar Klewer Solo yang baru.

  • 36 Comments
Bengawan Solo, Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi, perhatian insani…

Ada nada yang seolah terkayuh seiring pedal yang dipancal menuju sungai Bengawan Solo. Suara Mbah Gesang dengan iringan keroncongnya yang mengalun merdu, berdendang terus di kepala. Membuat saya tak henti-hentinya bernyanyi meski hanya sebatas dalam hati.

Sol sol la mi sol…

Do re mi re do mi…

  • 6 Comments
Sebuah musibah, tak pernah ada yang tau kapan ia datang. Ia menjadi sesuatu yang seharusnya dihadapi pada akhirnya.

***

Jalan-jalan ke Solo, tentunya kurang lengkap kalau sampai tak mencoba menginjakkan kaki ke Keraton juga wilayah sekitarnya, termasuk sekitaran PGS sampai memasuki kawasan Gladag.

Saya kira dulu Gladag hanyalah sebuah nama. Namun ternyata, nama Gladag lantaran area ini merupakan tempat menggladang hewan sembelihan raja yang akan dibagikan kepada rakyat di jaman dulu.

  • 15 Comments
Saya bukan penggila kopi, hanya seseorang yang selalu bersemangat ketika diajak ke sebuah tempat yang memang khas untuk ngopi. 

Seperti kala di Jogja, setelah acara dari New Saphire Hotel, berawal dari sebuah pertanyaan,

“Ada nggak sih tempat makan yang khas di dekat sini?” 

Berdiskusi sebentar di atas motor, Adik saya yang kebetulan memang kos di Jogja langsung mengajak saya ke sebuah warung kopi di dekat tugu Jogja.

kopi jos mb lina


“Ini, kopi yang arangnya dicelupkan ke dalam gelas itu tho?” tanya saya memastikan sembari membaca nama kopi Jos yang tertera di spanduknya.

Saya ingat, dulu adik saya pernah memberitahu saya mengenai kopi unik ini. Saya sempat tereran-heran waktu itu, apa enaknya minum kopi dikasih arang? Kopi saja sudah pahit, masih harus dipahitkan lagi? Tapi beberapa hari setelah saya mendengar cerita itu, saya makin sering mendengar mengenai kopi Jos. Rupanya, kopi ini memang sudah terkenal di mana-mana. Saya saja yang ketinggalan berita.

  • 15 Comments
Berwisata kalau tak mampir membeli oleh-oleh bisa menjadi perkara fatal buat saya.  Pasalnya banyak sekali teman-teman saya yang mendadak bisa berubah menjadi monster kalau saya kelupaan membawanya.  Hehe.

Untunglah salah satu rangkaian acara mengunjungi Magelang kemarin, kami diajak mengunjungi outlet getuk Marem.  Tempat oleh-oleh yang menjual gethuk sebagai panganan khasnya. Kedatangan kami ini sebelum kami kembali lagi ke Hotel Safira, Hotel tempat kami menginap

Jadi Apa Itu Getuk Marem?

lokasi getuk marem

Getuk Marem ini getuk . Sama seperti gethuk-gethuk yang lain di  Jawa Tengah. Terbuat dari singkong yang dihaluskan. Tapi dengan penyajian bentuk, pengolahan dan rasa yang berbeda.

  • 34 Comments
Sebelumnya saya sudah bercerita tentang mendaki tidar di acara festival tidar kemarin. Nah, pada rangkaian  acara festival tidar ini, kami menginap di Safira Hotel. Salah satu hotel  di kota Magelang yang lokasinya tak jauh dari Akmil Magelang.  Keberadaannya cukup strategis. Dari hotel ini kami tak butuh waktu lama untuk mencapai  tempat-tempat penting di kota Magelang. Lokasinya memang berada di pusat kota. Sehingga mau kemana-mana dekat.

  • 12 Comments
Ini sebenarnya tulisan lama saya di akun kompasiana. Tapi hari ini saya ingin menyemikannya kembali di blog ini.
***
“I love kopi”
Kata itu begitu sering terdengar di telinga saya. Pasalnya, Kakak saya, kawan saya, Om, dan pakde saya, adalah penggila. Mania kopi jenis apapun, yang tidak bisa saya mengerti kenapa mereka begitu doyan.

Pada dasarnya, selera memang tidak untuk diperdebatkan. Kemampuan lidah seseorang itu memang berbeda. Saya tidak begitu suka kopi, sekedar penikmat dikala butuh bergadang, atau ketika ingin mencoba varian minuman. Namun saya menjadi sedikit memahami tentang “Kopi” saat saya bertandang ke sebuah kedai kopi di wilayah kota solo.
Dari stasiun Purwosari ke selatan, memasuki  sebuah gang di selatan Rumah sakit Kasih Ibu, tepatnya di jalan Melati 07, Purwosari-Surakarta, kita akan menemui sebuah kedai kopi dengan nuansa klasik. Sebuah tempat yang pastinya asyik untuk ngorolin kanan-kiri, maupun mencari inspirasi.
“Ngopi serius” sebuah nama yang membuat saya sedikit mengernyit aneh.  Serius amat ini namanya, seolah kedai ini memberi peringatan saya sebagai seseorang yang tidak begitu kuat minum kopi, untuk tidak masuk ke dalam area ini. Tetapi lantaran penasaran, akhirnya sayapun memberanikan diri memasuki kedai itu dan menjajal kopinya.
ngopi serius solo
Suasana ngopi serius
Pintu kayu ukir di depan, serta warna kuning lampu yang membuatnya menyala remang-remang diantara kegelapan, berpadu dengan jajaran kursi, dan tiang dari kayu, memberikan kesan klasik nan artistik pada tempat ini. Di sisi kiri tembok, terpampang beberapa gambar tarian adat daerah, yang seolah ingin menegaskan kepada siapapun bahwa di dalam tempat ini keberagaman Indonesia hadir dalam segelas kopi yang siap dinikmati.

  • 2 Comments
malioboro street
Beragam manusia dari bergam daerah , beragam latar belakang, beragam tujuan, dan beragam model ada di sini. Menghias tiap jengkal jalanan Malioboro. Dan setiap manusia selalu menarik. 

Di suatu sore, langkah saya berhenti di hadapan seorang bapak-bapak yang asyik memainkan angklung. Ingar musik modern bergema dari sebuah toko pakaian di dekat lokasi si bapak berada. Namun itu tak menghentikannya memainkan lagu. Ia terus saja bermain sampai ingar musik itu berhenti sendiri dan musik angklungnya menjadi pemenang yang menguasai udara di sekitar kawasan Malioboro, Jogjakarta. Tepatnya di dekat hotel Mutiara. Saya cukup lama ada di sana. Mencoba menikmati sisi lain Malioboro. Mencari sisi dimana saya bisa berlari dari hiruk pikuk manusia yang dari pagi hingga sore tak juga reda.

 “Boleh saya main Pak?” Bapak itu baru saja menyelesaikan permainan lagu caping gunungnya ketika saya meminta. Dengan ramah ia mempersilahkan saya untuk mencoba menggoyang pelan susunan bambu-bambu itu. 

Saya mencoba memainkan sebuah lagu yang notenya paling melekat kuat di kepala saya. Sebuah irama gundul-gundul pacul pun mengalun. Irama yang terdengar terbata-bata, karena saya harus memainkan angklung sembari melihat huruf-huruf note yang ditempel di bagian atas bambu. Beberapa kali si Bapak mendahului saya menggoyang bambu karena gerakan saya yang terlalu lama. Saya hanya bisa terkekeh-kekeh dan pada akhirnya membiarkan saja si Bapak yang memiliki keterbatasan fisik di kakinya ini meneruskan permainan saya sembari tersenyum penuh maklum. 

Orang-orang yang lewat, sesekali memandang saya lantas menyunggingkan senyum ambigu. Mungkin saya yang begitu penasaran bermain angklung ini, nampak ndesonya di mata mereka.

 “Mahal ya, Pak, angklung seperti ini?” tanya saya iseng. Angklung terus mengalun. Iramanya menggugah nurani beberapa orang yang melintas. Sesekali orang-orang murah hati ini melempar koin maupun uang kertas kedalam toples si Bapak. Terkadang si Bapak menghentikan sebentar permainannya demi memungut recehan yang meleset terlempar ke luar toples. 

“Harganya dulu sekitar 1 juta.” Saya mlongo. Mahal benar?

Si Bapak terkekeh melihat ekspresi kaget saya. “Bambu memang murah, Mbak. Membuatnya berirama seperti ini, itu yang mahal,” katanya.

  • 16 Comments
Older Posts Home

Translate

Where we are now

o

About me

a


Fubuki Aida

Suka mengamati manusia, mendengar dan mencari cerita

~~Blogger Wonogiri-Solo~~


Kalau ada usulan tulisan bisa kontak saya di IG ya. Link bisa klik ikon IG di bawah

Find Me

  • youtube
  • instagram
  • facebook

Follow Facebook

Followers

Featured Post

Plinteng Semar, Legenda Taman Kota Wonogiri

Banner spot

Postingan Terbaru

Loading...

Labels

airy rooms astra bakso bengawan solo blora boyolali bubur buku cara pembaatalan tiket cerita Cernak cheriatravel Cirebon coretan coworking space solo featured gunungkidul hotel hotel alana hotel solo hotel wonogiri info jalan-jalan jawatengah jawatimur jepang jepara jogja kafe wonogiri KAI kampung inggris pare karanganyar karimunjawa karst kediri kereta klaten kolamrenang komputer kopi kudus kuliner kulinersolo kulinerwonogiri Lampung Liang Teh Cap Panda Liputan6 lomba lombok madiun magelang mesastila Pantai Pulau Merak Rembang Review safi saloka park Semarang solo sponsored stasiun story sukoharjo tawangmangu tempat ngopi solo tempat-meeting-solo traveling waduk pidekso watucenik wonogiri yogyakarta

Popular Posts

  • Solo Pluffy, Oleh-oleh Solo Bernafas Cinta Jessica Mila
    Solo itu manis.  Manis tutur aksara, perangai,  unggah-ungguh warganya dan tentu saja manis ‘wajah orang-orangnya ^^ Solo itu kota yang man...
  • Agrowisata Amanah, Tempat Outbound Asyik di Karanganyar
    Ini suatu perjalanan ketika suatu hari, kawan-kawan saya sepakat buat dolan Perjalanan kali ini bukan ke gunung, hutan, ataupun laut. Perja...
  • 3 Kolam Renang Khusus Perempuan di Solo
    Berenang merupakan salah satu olah raga yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Ketika berenang, seluruh tubuh kita bergerak, secara otomat...
  • 5 Hotel Di Wonogiri Yang bisa Jadi Alternatifmu Menginap Di Kota Gaplek
    Membicarakan wisata, traveling dan semacamnya, memang tak bisa dilepaskan dari yang namanya hotel, dan kuliner. Karena blog saya beberapa t...
  • Review Novel Daniel Mahendra, “Perjalanan ke Atap Dunia”
                Sebetulnya buku ini sudah niat saya ambil dari rak buku Perpustakaan Ganesha sejak dulu-dulu. Tapi lantaran lagi sok sibuk, ci...

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top