Fubuki Aida Blog

  • Home
  • Cerita
  • _Kuliner
  • _Traveling
  • _Hotel
  • _Info
  • About
  • Disclaimer
view dari Watu Lumbung

Dua minggu lebih sempat merasa tak berdaya karena sakit, akhirnya sedikit demi sedikit saya kembali pulih. Ya biarpun masih kambuhan, setidaknya saya sudah tak didera rasa pusing yang berkepanjangan.

Tepatnya 2 hari lalu, di tengah rasa bosan yang mendera karena kebanyakan glundang-glundung di kasur, saya secara tetiba terpikirkan untuk datang ke kawasan Sendang Pinilih.

Ibu berwajah masam saat mendengar saya pamitan “kumat neh, karepmu!” ujarnya. Saya cuman njegeges dan nekat memacu motor ke sana. Yeah, beberapa hal mengganggu pikiran saya kemarin, ditambah keharusan banyak-banyak bed rest rasanya justru membuat saya makin ingin kabur.

“Ini nggak ada jasa anter ke atas Mbak? Saya kok pengen ke Bukit Joglo. Tapi mau naik sendiri nggak berani. Tanjakannya ngeri e” tanya saya pada Mbak-mbak penjaga tiket.

“Wah, udah sore Mbak. Kalau agak siangan tadi, saya mau nganterin ,” sahut Mas-mas di sampingnya.

Saya mengintip jam HP. Benar juga sudah setengah 5 an. Sampai di Bukit Joglo tentunya sudah terlalu sore, dan bisa dipastikan balik bakalan Magrib.

“Minggu aja Mbak, saya anterin,” tawar Mas-mas tersebut. Saya menggeleng. Saya suntuknya hari itu, nunggu Minggu ya percuma lah.

“Kalau yang tempat wisata baru itu dimana, Mas?” saya mencoba mencari alternatif.

“Ohh, itu Watu Lumbung. Perempatan depan belok kiri lurus aja terus. Nanti untuk sampai ke Watu Lumbung, Mbak harus naik jalan kaki,” terangnya. Saya manggut-manggut. Meskipun sebenarnya saya sedikit khawatir naik ke Watu Lumbung bakal membuat tenaga terkuras. Mengingat, itu sesuatu yang sangat tidak disarankan untuk kondisi saya saat ini.

“Mau kesana Mbak? Sendiri aja?”

“Iya. Yang penting aman kan Mas? Tempatnya tinggi nggak?”

“Aman, Mbak. Nanjaknya Cuma pas jalan kaki aja ke sana,” giliran si Mbak-mbak menyahut.

Mendengar penjelasan ini, saya makin mantap untuk lanjut jalan. Usai berpamitan, sesuai arahan mereka saya berbelok di perempatan.

Jalur menuju Watu Lumbung merupakan jalur cor blok. Saya kira, motor saya bakal melaju cukup jauh. Ternyata, hanya sekiar 5 menit saya sudah sampai di penghujung jalan yang merupakan rumah warga.

Rumah-rumah di Sendang Pinilih buat saya cukup unik. Saya menyebut perkampungan di sini perkampungan di atas awan. Pasalnya, jalur ke kawasan ini tanjakannya lumayan. Saat pagi hari datang kemari, Desa Sendang Pinilih diselimuti kabut, membawa imaji saya bahwa tempat ini seperti sebuah negri dongeng, negri di atas awan.

Seorang perempuan muda muncul melihat kehadiran saya di depan rumahnya.

“Watu Lumbung itu di atas sana Dik?” saya memarkir motor lantas bertanya pada si gadis yang sayangnya saya lupa namanya.

“Iya Mbak. Mau saya anter?” tanyanya.

"Mau banget," sontak saya tak menolak. Bagaimanapun jalan di tempat yang belum pernah didatangi lebih terasa aman kalau ada yang menemani.


“Sendirian aja Mbak?” tiba-tiba suara laki-laki terdengar dari belakang saya.

“Iya,” jawab saya lantas memutar tubuh ke belakang. Namun saya kaget. Tak ada manusia satupun di sana.

Saya bengong, dan  hati mak tratap rasanya.  Pandangan di belakang hanya pepohonan yang tampak lebat, dengan suasana cukup gelap saking rimbunnya, ditambah hari memang sudah sore.

Mungkin, sekitar 10 detikan saya terpaku.

“Mbak,” suara itu terdengar lagi. Tapi tetap tak terlihat manusia.

“Mbakk…”

Jantung saya mendadak memburu. Sore-sore menjelang magrib, datang ke tempat yang masih agak rungkut dibanding spot-spot lain di kawasan Sendang Pinilih, tetiba menjadi sesuatu yang saya sesali saat itu. Bayangan saya sudah yang nggak-nggak. Bahkan sempat terlintas, jangan-jangan perempuan muda tadi bukan manusia. Tiba-tiba saya merasa khawatir,  menengok lagi ke arah semula.

“Mbakkk…”Suara itu memanggil lagi. Kali ini saya mendongak pelan-pelan ke atas pohon yang tepat ada di hadapan saya.

“Baaaa,” ujar seseorang di atas sana.

Reflek saya teriak dan tubuh berjengat ke belakang.

Wohladala, jebulannya di atas pohon yang entah apa namanya, ada bapak-bapak berkaos parpol sedang metangkring. Entah sedang apa.

“Kaget Mbak?” tanyanya tanpa rasa berdosa dan hanya tersenyum lebar

Meski gemes, saya ngekek. Dalam hati membatin, ahhh Alhamdulillah suoro uwong tenan tibake.

“Kalau mau naik ke atas jaraknya 5 km Mbak,” ujar si bapak.

Perkataan si Bapak tentu membuat saya awang-awangen seketika. Pengalaman saya bertanya ke penduduk setempat, kalau penduduk bilang 2 km itu berarti bisa sampe 8 km an. Hla ini dia bilang 5 km, bisa-bisa saya harus nanjak sejauh 10 km.

“Ayo Mbak,” si  perempuan muda tadi, menyadarkan saya untuk segera menentukan sikap.

Ia mengambil sandalnya lantas mendahului saya jalan di depan tanpa memberikan penjelasan apakah yang dikatakan si bapak tadi benar atau tidak.

Ragu saya mendadak teralihkan dengan semangat si gadis muda menemani saya.

Wes ditawani meh dikancani, mosok yo rasido Da? Batin saya dalam hati.

Saya menelan ludah sembari berdoa dalam hati, “duhh, mugo-mugo ra kumat. Mugo-mugo gur cedak,”

Saya bergegas menyusul si gadis yang mendahului saya melewati jalan semen setapak yang menanjak. Di sela-sela perjalanan saya mencoba menanyai perempuan muda itu untuk sekedar mencairkan suasana.

Saya kira, perjalanan bakalan sepanjang 5 km seperti yang dikatakan si bapak. Hla ternyata, mak jegagik, hanya berkisar 5 menit tak sampai, saya sudah tiba di tempat yang disebut Watu Lumbung.

Hemm, bapaknya, 2 kali sukses bikin saya deg-degan.

Sampai di atas, Watu Lumbung tampak belum selesai digarap. Menurut penuturan si gadis muda tempat ini direncanakan sebagai tempat landas ganthole seperti halnya Bukit Joglo. Beberapa waktu sebelumnya juga sudah ada beberapa atlit paralayang yang menjajal landasan Watu Lumbung.

Jika dibandingkan Watu Cenik, Soko Gunung maupun Bukit Joglo, menurut saya pemandangan Watu Lumbung masih kalah dari ketiga pendahulunya. Pasalnya pemandangan tidak selapang ketiga tempat tersebut. Namun kelebihan tempat ini adalah sudut pandang di tempat ini lansung pas ke Karamba, jadi karamba jadi lebih terlihat jelas. Pun bagi para atlit paralayang pemula, ketinggian yang lebih pendek tentunya cocok untuk berlatih

Hanya sebentar saya di Watu Lumbung. Lantaran mengejar waktu biar tidak kemalaman untuk lanjut ke Watu Cenik.

Saat kembali turun, si Bapak masih saja metangkring di atas pohon.

“Gimana Mbak, jauh?” tanyanya sambil ngekek.

“Nggak pak, deket itu. Haha,” ujar saya ikut tertawa. Si Bapak pun ngekek lagi. Entah ia memang salah memperkirakan jarak, atau pada dasarnya ia sedang bercanda, pokoknya saya ngekek saja. Buat saya, itu sebuah sambutan keramahannya sebagai warga. Pun, si perempuan muda, ia menunjukkan keramahannya sebagai warga setempat. Dengan baiknya ia bersedia menemani saya naik turun. Meski tak terlalu jauh, ya teteplah jalan nanjak itu bikin lelah, dan menemukan orang yang mau menemani nanjak seperti itu sesuatu yang berkesan buat saya.

Yeaahh sore kemarin, datang ke Sendang Pinilih sepertinya memang sesuatu yang tepat.

Ahh ya, cerita masih berlanjut sebetulnya di Watu Cenik. Pankapan saja lah saya lanjut lagi. Sudah 900 an kata. Saya rasa cukup tulisan ini jadi isian blog setelah sekian lama saya nggak nulis di sini. 





  • 0 Comments
“Barangkali di sana ada jawabnya,
mengapa di dusunku terjadi gempa?
Mungkin Tuhan mulai enggan
melihat tingkah anak muda
yang selalu salah dan bangga,
kepada dosa-dosa...”

Sebuah video hasil rekaman salah satu anggota tim kami yang menshoot salah seorang ibu-ibu korban gempa Lombok yang bernyanyi menggubah lirik lagu Bang Ebbiet di dalam tenda entah kenapa mengaduk perasaan saya. Trenyuh. Wajah yang polos, pasrah, sekaligus prihatin terpancar di wajahnya.


Sebuah pertanyaan mengapa, wajar tentunya ditanyakan olehnya. Wajar pula tentunya ketika kemudian saya atau anda ikut bertanya-tanya mengapa gempa terjadi? Mengapa bencana terjadi di tanah air?

mainan bego diantara puing reruntuhan gempa lombok
docpri

  • 4 Comments
Ketenaran Kampung Wayang Kepuhsari sebenarnya sudah lama saya dengar. Akan tetapi, baru beberapa waktu lalu saya sebagai warga Wonogiri berkunjung ke sana.

Sosok itu sedang duduk di depan rumah. Sebuah rumah kayu berlantai keramik di Wayang Village Kampung Wayang Kepuhsari Wonogiri. Dari balik kacamata hitamnya, pria yang mungkin seusia ayah saya itu melirik ke arah saya dan adik. Tangannya masih memegang pukul, namun gerakan tatahannya ia hentikan sesaat.

pembuatan wayang


  • 13 Comments
Saya baru saja berpamitan hendak pulang sebelum saya memberitahu pakde bahwa beberapa waktu sebelumnya saya baru saja berkunjung ke Wayang Village, Kampung Wayang Kepuhsari yang ada di Manyaran Wonogiri.

Siapa sangka, pemberitahuan singkat tersebut justru membuat saya kembali duduk, dan berbincang lagi dengan pakde dalam perbincangan yang pada akhirnya mengulur kepulangan saya nyaris satu jam kemudian.

wayang village
docpri

“Tanah Jawa iku jaman bien Jalma mara, Jalma mati, [1]” ujar pakde sembari menyilakan kakinya.

  • 6 Comments
Bila hati gelisah,
Tak tenang tak tentram..
Bila hatimu goyah,
Terluka merana..
Jauhkah hati ini, dari Tuhan, dari Allah?
Hilangkah dalam hati, dzikirku, imanku?
….

****

Allah Maha Mendengar, dimanapun kita berdoa. Ya, saya tidak meragukan itu. Akan tetapi kala kita ingin berlari, kita ingin mengadu, adakalanya tempat-tempat tertentu membawa kita pada suasana yang lebih. Kekhusyukan yang lebih kuat, kedekatan yang lebih akrab, rasanya lebih bisa kita dapat saat bermunajat di sana.

Hujan baru saja usai, meskipun sisa-sisa gerimis masih turun pelan. Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya di tahun 2018 saya mendatangi lagi Masjid Fatimah Solo.

masjid fatimah solo


Jika kamu bertanya kepada warga Solo, nama Masjid Fatimah tentu sudah tak asing lagi. Beberapa orang bahkan menamai masjid ini sebagai masjid pengantin. Bukan berarti kalau datang ke sini bakalan cepet jadi pengantin. Disebut demikian, lantaran Masjid Fatimah kerap dijadikan tempat ijab pasangan pengantin sekaligus mereka melangsungkan acara pernikahan.

Bagi saya pribadi, Masjid Fatimah adalah tempat paling tenang untuk berlari saat ingin mengadu padaNya lantaran ada yang mengganggu dalam benak dan ketika ketenangan hati tergerogoti seperti akhir-akhir ini.

Entah kenapa, saat menginjakkan kaki di Masjid Fatimah, saya merasai seperti sedang berada di Istiqlal. Suasananya lebih tenang, dingin, damai. Yeah, bagi saya Masjid Fatimah adalah Isqiqlalnya Solo.


“Dulu, aku pernah punya mimpi, suatu hari kalau aku menikah, aku ingin menikah di masjid ini,” ucapan seorang teman sekitar dua tahun lalu tiba-tiba berputar.

Masih terngiang di benak saya, sekitar  dua tahun lalu, seorang kawan baik nyaris menangis di tempat duduk Masjid Fatimah dimana orang-orang melepas alas kakinya.

Saya bisa merasakan sesak dan perih mendengar ucapannya.

“Masih belum terlambat. Siapa tahu, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik yang menunggumu di masa depan yang menerimamu apa adanya, yang akan mengajakmu menikah di tempat ini. Ayo solat sik wae, terus ndongo,” hibur saya berusaha menghindarkannya supaya tidak benar-benar menangis di sana.

Usai wudhu, teman saya berusaha tersenyum. Saya bergegas mendahuluinya. Melihatnya terlalu lama hanya akan ikut membuat saya berurai air mata. Padahal teman saya butuh dikuatkan bukan diyakinkan bahwa  perasaan saya ikut tercabik prihatin dengan kehidupannya yang berantakan.

“Dosaku akehh,” ucapnya.

“Wes gek ndongo,”ujar saya tanpa banyak berkata-kata. 

Beberapa bulan sebelumnya, saya sudah terlalu panjang lebar bicara banyak padanya saat ia membuat sebuah pengakuan mengejutkan. Saya sempat membodoh-bodohkannya dulu dan ia hanya tertunduk mengiyakan bahwa ucapan saya benar.

Saya merasa bersalah pernah berkata demikian. Karna dukungan moril dari orang-orang terdekatnya adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan kini.

“Orang tua itu yang paling dikhawatirkan terhadap anak perempuannya bukan tentang ‘jadi apa anaknya nanti!’ yang paling dikhawatirkan mereka adalah ‘siapa laki-laki yang akan jadi pendamping anaknya’. Karena mereka bakalan lega, kalau melihat pengganti mereka dalam menjaga putrinya adalah laki-laki yang memang baik dan mampu membahagiakan”
Dulu saat mendapat nasihat demikian dari seorang senior di tempat kerja, saya belum bisa menerima nasihat itu. Ego masa muda yang masih besar dulu membuat saya begitu angkuh menerima kenyataan bahwa perempuan memang membutuhkan laki-laki untuk lebih tegak berdiri. Laki-laki baik yang bisa menuntunya ke jalan yang lebih baik.

Beriringnya waktu, sedikit banyak saya sadar, ucapan senior saya benar. Kisah kawan saya ini yang paling banyak menyadarkan saya.

Kawan saya adalah sosok perempuan baik-baik. Hanya pernah dua kali jatuh hati. Yang pertama hanyalah cinta monyet, sementara yang kedua adalah sebuah cinta yang salah yang menggiringnya pada kehidupan yang “entah”.

Laki-laki yang  menjadi ayah anaknya adalah laki-laki beristri, pembohong tak bertanggung jawab yang seolah datang untuk menaklukkan kemudian setelah kawan saya takluk ia pergi.

“Apa dia nggak punya ibu? Apa dia nggak punya adik perempuan?  Apa dia nggak bisa membayangkan bagaimana kalau hal semacam ini terjadi pada perempuan-perempuan dalam keluarganya?” seorang sahabat lain pernah uring-uringan gara-gara masalah ini. 

Laki-laki itu punya Ibu dan ia juga punya adik perempuan, tapi ia tak cukup punya akidah yang baik memperlakukan perempuan.

Masalah yang terjadi terlalu complicated lantaran dibiarkan terlalu lama saat kami semua tahu kebenaran. Jangankan kami, keluarga teman saya sendiri sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Pada akhirnya kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya serta menyemangatinya kala ia merasa putus asa.



Kursi dan meja ijab ditata di bagian tengah masjid saat saya datang kemarin. Saya mengedarkan pandang membaca suasana. Hanya ada beberapa orang yang tampaknya memang datang untuk tujuan solat. Saya menghela nafas, rupanya saya datang saat ijab sudah selesai. Hanya bersisa meja kursi yang belum dikembalikan pada tempatnya.

masjid solo fatimah
Add caption

Dulu beberapa kali saya mampir kemari, beberapa kali pula kedatangan saya bertepatan dengan acara Ijab Qabul hendak dilangsungkan. Biasanya, usai solat, meskipun saya tidak kenal dengan pengantin, saya menunggu sampai Ijab Qobul dimulai dan menyaksikannya sampai selesai. Tenang saja, bukan untuk mendapat snack. Saya hanya meyakini bahwa salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa adalah saat Ijab Qobul terjadi. 

Lagipula, asik juga menjadi saksi cinta sepasang pasangan. Saya pernah menemui pasangan pengantin berbeda daerah. Satu minang, satu Jawa Barat. Namun uniknya mereka menikah di Solo karena di kota inilah mereka bertemu. Saya jadi bisa melihat pakaian topi khas Minang yang dipakai pihak perempuan. Saya sampai terheran-heran dengan keglamouran aksesoris pernikahannya waktu itu.


“Laki-laki yang tahu agama, Insya Allah jika ia khiaf ia tak akan menyakiti perempuan terlalu dalam. Laki-laki yang tau agama saja bisa khilaf, apalagi kalau ia tak mengerti agama,” kali ini ucapan ayah saya  terngiang kembali. Nasihat klise namun memang cukup masuk akal. 

Huhhh, Yahh, anakmu saja agamanya masih biasa-biasa aja. Batin saya dalam hati. Tapi saya mengaminkan saja kala kemudian ia mendoakan saya demikian.

Jam lonceng di Masjid Fatimah terus berdetak. Melipat kembali mukena, dan pandangan tertumbuk lagi pada meja kursi tempat ijab, membuat saya teringat dengan teman saya lagi. Yaa semoga, Allah benar-benar memberinya kesempatan sekali lagi untuk teman saya menikah di Masjid Fatimah suatu hari dengan laki-laki yang benar-benar bisa membahagiakannya dan menerimanya.

Keluar dari Masjid yang dibangun oleh juragan batik Danar Hadi ini, hujan rupanya deras kembali. Malas mengeluarkan mantol saya lebih memilih langsung memacu motor, menerjang hujan menuju Wonogiri



  • 6 Comments
Sebuah musibah, tak pernah ada yang tau kapan ia datang. Ia menjadi sesuatu yang seharusnya dihadapi pada akhirnya.

***

Jalan-jalan ke Solo, tentunya kurang lengkap kalau sampai tak mencoba menginjakkan kaki ke Keraton juga wilayah sekitarnya, termasuk sekitaran PGS sampai memasuki kawasan Gladag.

Saya kira dulu Gladag hanyalah sebuah nama. Namun ternyata, nama Gladag lantaran area ini merupakan tempat menggladang hewan sembelihan raja yang akan dibagikan kepada rakyat di jaman dulu.

  • 15 Comments
Dunia IT selalu identik dengan “laki-laki”. Kampus IT pun rata-rata memiliki mahasiswa laki-laki yang jauh lebih banyak daripada perempuan. Ini pula lah yang terjadi di kampus saya. Perbandingan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di kelas mencapai angka 70 persen. Bahkan dulu ketika saya masih sering mengikuti kelas kakak-kakak tingkat, saya seringkali menjadi mahasiswa perempuan satu-satunya diantara sekian banyak laki-laki.

“Perempuan itu, banyak yang nggak ‘jadi’ kalau kuliah ambil jurusan IT. Paling-paling lulus cuma jadi tukang ketik exel di kantor-kantor,” komentar seorang teman beberapa  tahun yang lalu ketika saya memberitahunya bahwa saya baru saja mendaftar di sebuah kampus IT .

“Kok komentarmu gitu?” keluh saya

Padahal membuat keputusan untuk kuliah lagi bukan perkara mudah saat itu. Punya teman yang kadang kerap kali nyinyir di tengah kondisi butuh semangat seperti ini, disitu kadang saya merasa sedih. Hiks.

“Sejauh pengalaman saya memang gitu. Kamu tau si A, dia pernah kuliah di tempatmu juga. Tapi nggak selesai. Perempuan yang kuliah lagi itu, banyak godaannya. Ya kita lihat saja nanti. Kamu bisa lulus atau nggak,”

Nah, Loh? Kali ini laki-laki itu nyinyir lagi. Hem, kalau bukan karena usianya yang jauh sekali di atas saya, mungkin saya sudah cicit cuit.

“Coba pikir, kenapa laki-laki itu lebih dibutuhkan di dunia IT? Apa ya perempuan nanti mau, kalau harus panjat-panjat tangga benerin kabel, atau angkat-angkat printer dan pc?” tambahnya lagi

“Kan dunia IT tidak hanya seputar teknisi,” sanggah saya.

“Tapi kemampuan-kemampuan teknis semacam itu dibutuhkan di dunia kerja. Lagipula, kalau mau jadi programmer, perempuan itu 'susah jadi'. Jarang perempuan berhasil jadi programmer,”

  • 13 Comments
Domain. Apa itu domain? Domain dalam wikipedia diartikan sebagai nama unik untuk mengidentifikasi server komputer maupun web server di jaringan komputer ataupun intenet.
Pengertian yang sedikit sulit dipahami ya?



Kalau saya sendiri lebih suka memberi artian domain sebagai alamat rumah asli kita di internet. 
Inilah yang menjadi identitas kita. Dan ketika kita membutuhkan identitas diri di dunia perinternetan, alamat domain inilah yang akan menjadi alamat kita.

Yang jadi pertanyaan, apa sih pentingnya punya domain .com ?

1. Profesional
Kesan jika alamat blog kita berdomain .com adalah profesional. Ini lebih  pada kesan serius kita menggarap sesuatu. Domain .com juga menjadi sangat penting ketika website kita dipakai untuk berjualan. 


Saya sendiri, bakalan lebih percaya jika sebuah toko online memiliki domain .com. Saya cenderung ragu-ragu, jika membeli barang di internet yang tidak memiliki domain .com. Saya akan langsung berpikir, bagaimana toko itu bisa melayani saya sebagai customer secara profesional? Jika websitenya saja tidak memberikan kesan profesional dan serius lewat domain .com yang notabenenya adalah identitas yang paling mudah di dapat?

Kepemilikan kita akan domain .com sangat besar  pengaruhnya pada kepercayaan pelanggan online maupun offline. Saya kebetulan memiliki sebuah toko online yang beralamat di http://entungsouvenir.com saya sangat bisa merasakan, bagaimana customer yang membeli barang saya lewat offline menaruh minat yang begitu besar saat saya mengatakan, "bisa lihat produknya di website"

Pun dengan pembeli online, mereka bisa jauh lebih percaya ketika menggunakan domain .com daripada ketika saya menggunakan blog berplatform gratisan.
  • 6 Comments
Di lingkungan saya saat ini lazada menduduki peringkat pertama toko online  paling laris. Pasalnya, nyaris kawan-kawan saya menggunakan lazada sebagai tempat mereka membeli barang.

Ketika berada di kantor misalnya, teman-teman saya yang kebanyakan perempuan, menjadikan lazada sebagai tempat mereka belanja berbagai aksesoris pelengkap produk fashionnya, seperti tas, baju ataupun  jam tangan. Lain halnya dengan kawan-kawan saya di kampus. Karena kebanyakan kawan-kawan kampus saya adalah laki-laki yang suka dengan teknologi. Maka sasaran belanja mereka di lazada adalah benda-benda elektronik. Mulai dari HP, sampai kamera dan aksesorisnya.
  • 2 Comments
Karna mempunyai mimpi membuat kita berenergi

Menjadi penggemar komik dan anime sejak masih kanak, membuat saya menjadikan Jepang sebagai negri impian. Nama Fubuki Aida inipun hasil serapan dari sebuah komik asal Jepang yang berjudul“The Extra Kobayashi”.  Saya mencomot nama Fubuki dari nama salah satu tokoh utamanya, Fubuki Kobayashi. Yang kemudian saya kolaborasi dengan nama asli saya, Aida. Nama yang kebetulan juga masuk dalam kosakata Jepang, yang kalau ditilik di kamus Jepang-Indonesia berarti antara

  • 35 Comments
Disini saya tidak ingin menempatkan diri saya sebagai orang sok suci yang membenci keras rokok. Nggak, saya memang tidak suka rokok, dan cukup prihatin kepada para perokok. Tapi, saya bukan orang yang memandang buruk seorang perokok, apalagi sampai membenci mereka. Gimana saya mau benci, orang-orang sekitar saya yang termasuk kategori orang-orang dekat, banyak yang perokok dan pada kenyataannya nasihat saya selalu mental pada mereka semua. Akhirnya berakhirlah saya pada pemakluman, lantaran mereka selalu berdalih pada kata “Susah!”
  • 2 Comments
            Sebetulnya buku ini sudah niat saya ambil dari rak buku Perpustakaan Ganesha sejak dulu-dulu. Tapi lantaran lagi sok sibuk, ciut nyali untuk mengambil buku setebal itu. Eh, entah karena dorongan apa, beberapa waktu lalu main lagi ke Perpustakaan Ganesha: sebuah perpustan keren di Solo, buku ini seolah memanggil-manggil. Tanpa pikir panjang langsung saja kucomot. Dan wow! Saya benar-benar merasa ini buku yang saya rindukan.



                Perjalanan ke Atap Dunia, adalah sebuah kisah perjalanan seorang Daniel Mahendra mengunjungi impiannya. Impian yang ia dapatkan sedari kecil untuk berkunjung ke Tibet, Negri Atap Dunia, lantaran sebuah hadiah komik: Tintin di Tibet. Buku ini bercerita bagaimana alam raya berkonspirasi mewujudkan impian yang sejak dulu selalu Daniel gaungkan.

                Suatu hari di awal 2011, seorang kawan, Ijul namanya, lagi-lagi bertanya padaku, “Jadi kapan mau ke Tibet?” Aduh! Aku masih belum bisa menjawab. Ketika aku hanya bisa tertawa, di situlah aku sadar: rupanya aku tidak pernah betul-betul kongkret dalam mewujudkan impianku soal Tibet. Semata angan belaka. Lamunan tanpa tahu malu. Lalu Ijul menambahi,”Kalau kamu nggak pernah merencanakan pergi, kapan sampainya?” tetaknya saat itu. Hmm, betul juga dia.
  • 2 Comments
Older Posts Home

Translate

Where we are now

o

About me

a


Fubuki Aida

Suka mengamati manusia, mendengar dan mencari cerita

~~Blogger Wonogiri-Solo~~


Kalau ada usulan tulisan bisa kontak saya di IG ya. Link bisa klik ikon IG di bawah

Find Me

  • youtube
  • instagram
  • facebook

Follow Facebook

Followers

Featured Post

Plinteng Semar, Legenda Taman Kota Wonogiri

Banner spot

Postingan Terbaru

Loading...

Labels

airy rooms astra bakso bengawan solo blora boyolali bubur buku cara pembaatalan tiket cerita Cernak cheriatravel Cirebon coretan coworking space solo featured gunungkidul hotel hotel alana hotel solo hotel wonogiri info jalan-jalan jawatengah jawatimur jepang jepara jogja kafe wonogiri KAI kampung inggris pare karanganyar karimunjawa karst kediri kereta klaten kolamrenang komputer kopi kudus kuliner kulinersolo kulinerwonogiri Lampung Liang Teh Cap Panda Liputan6 lomba lombok madiun magelang mesastila Pantai Pulau Merak Rembang Review safi saloka park Semarang solo sponsored stasiun story sukoharjo tawangmangu tempat ngopi solo tempat-meeting-solo traveling waduk pidekso watucenik wonogiri yogyakarta

Popular Posts

  • Solo Pluffy, Oleh-oleh Solo Bernafas Cinta Jessica Mila
    Solo itu manis.  Manis tutur aksara, perangai,  unggah-ungguh warganya dan tentu saja manis ‘wajah orang-orangnya ^^ Solo itu kota yang man...
  • Agrowisata Amanah, Tempat Outbound Asyik di Karanganyar
    Ini suatu perjalanan ketika suatu hari, kawan-kawan saya sepakat buat dolan Perjalanan kali ini bukan ke gunung, hutan, ataupun laut. Perja...
  • 3 Kolam Renang Khusus Perempuan di Solo
    Berenang merupakan salah satu olah raga yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Ketika berenang, seluruh tubuh kita bergerak, secara otomat...
  • 5 Hotel Di Wonogiri Yang bisa Jadi Alternatifmu Menginap Di Kota Gaplek
    Membicarakan wisata, traveling dan semacamnya, memang tak bisa dilepaskan dari yang namanya hotel, dan kuliner. Karena blog saya beberapa t...
  • Review Novel Daniel Mahendra, “Perjalanan ke Atap Dunia”
                Sebetulnya buku ini sudah niat saya ambil dari rak buku Perpustakaan Ganesha sejak dulu-dulu. Tapi lantaran lagi sok sibuk, ci...

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top